BISNIS INTERNASIONAL

· Uncategorized
Authors

BAB IX

BISNIS INTERNASIONAL

 

A. Pendahuluan

Pada bab ini akan dibahas tentang jual beli internasional, metode pembayaran internasional, dan imbal beli internasional. Melalui bahasan bab ini diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan pokok bisnis internasional.

B. Penyajian

1. Jual Beli Internasional

a. Pengertian Jual Beli Internasional

Pada prinsipnya jual beli internasional merupakan jual beli biasa, sehingga aturan hukum tentang jual beli biasa pada prinsipnya berlaku terhadap jual beli internasional. Hanya saja yang membedakan dengan jual beli biasa adalah bahwa dalam jual beli internasional, antara pihak penjual dengan pihak pembeli tidak berada dalam 1 (satu) negara, sehingga harga ataupun barang harus dikirim dari satu negara ke negara lainnya. Karena itu, hukum tentang Jual Beli Internasional akan berjalan berbarengan dengan hukum tentang

ekspor-impor.

b. Benturan-benturan Hukum dalam Jual Beli Internasional

Karena umumnya ada 2 (dua) negara yang terlibat dalam hal jual beli internasional dimana hukum dari negara-negara tersebut saling berbeda satu sama lain, maka benturan-benturan hukum antar negara yang terlibat tidak dapat dihindari. Hukum berusaha menyelesaikan benturan tersebut dengan cara-cara sebagi berikut:

1)     Dengan pembuatan konvensi-konvensi internasional.

2)     Penyelesaian lewat Hukum Perdata nternasional.

3)     Penyelesaian lewat pengaturan para pihak dalam kontrak.

Pokok-pokok yang sering timbul dalam jual beli internasional berhubung dengan berbedanya hukum diantara negara dari pihak pembeli dengan negara dari pihak penjual adalah sebagi berikut:

1)     Kekuatan Hukum Negosiasi.

2)     Akseptasi yang Berbeda dengan Tawaran.

3)     Pembatalan Suatu Tawaran.

4)     Perlu Tidaknya Suatu Consideration.

5)     Keharusan Kontrak Tertulis.

6)     Waktu Dianggap Tercapainya Kata Sepakat.

 

c. Dasar Hukum terhadap Jual Beli Internasional

Dasar hukum terhadap kontrak jual beli internasional adalah sebagai berikut:

1)     Ketentuan dalam kontrak tersebut, berdasarkan prinsip kebebasan berkontrak.

2)     Ketentuan dalam Undang-Undang tentang Hukum Kontrak (Nasional).

3)     Kebiasaan bisnis (trade usage).

4)     Yurisprudensi.

5)     Kaidah Hukum Perdata Internasional.

6)     Konvensi-konvensi internasional, seperti United Nation Convention on Contracts for the International Sale.

d. Pengaturan Resiko dalam Jual Beli Internasional

Berhubungan berbedanya negara dari pembeli dengan penjual, sehingga memerlukan pengiriman barang dari 1 (satu) tempat ke tempat lainnya, maka berbagai kemungkinan dapat terjadi atas barang objek jual beli tersebut. Misalnya, barang tersebut hilang atau rusak di tengah jalan. Umumnya hal tersebut dapat dikategorikan sebagai kejadian force majeure. Sering menjadi masalah dalam hal ini siapakah yang harus menanggung resiko tersebut, apakah pihak penjual atau pihak pembeli.

Untuk pengaturan resiko dalam hal jual beli internasional ini, hukum memberikan jalan yuridis sebagai berikut:

1)     Resiko dapat diatur sendiri dalam kontrak yang bersangkutan.

2)     Resiko mengikuti kepemilikan. Dalam hal ini apabila hak milik sudah berpindah kepada penjual, maka risiko pun berpindah kepada penjual.

3)     Resiko mengikuti pengaturan hukum mana yang berlaku. Setelah ditentukan hukum negara mana yang berlaku, maka dilihat bagaimana pengaturan resiko dalam hukum negara tersebut.

4)     Resiko mengikuti prinsip reservasi kepemilikan. Adakalanya ditentukan dalam kontrak bahwa hak milik belum berpundah meskipun barang sudah diserahkan, misalnya karena harga belum dibayar lunas. Karena itu, adalah adil jika ditentukan dalam kontrak bahwa resiko pun mestinya belum berpindah ke pihak pembeli.

5)     Resiko mengikuti penyerahan benda. Jika berada sudah diserahkan maka resiko pun sudah harus berpindah. Tentang saat penyerahan benda ini terdapat berbagai kemungkinanbergantung model mana yang dipilih oleh para pihak dalam kontrak tersebut. Misalnya dapat dipilih model FOB (freeon board), CIF (Cost, Insurance and Freight) dan lain-lain.

2. Metode Pembayaran Internasional

Dalam dunia bisnis dan hukum ada perkembangan secara evolution terhadap metode pembayaran terhadap suatu transaksi ini. Perkembangan metode pembayaran secara evolutif adalah sebagai berikut:

  1. Mulai dari metode pemabayaran barang ditukar dengan barang (barter).
  2. Metode pembayaran cash (barang ditukar langsung dengan uang).
  3. Metode pembayaran dengan cek (barang ditukar dengan cek).
  4. d.      Metode pembayaran yang lebih mutakhir, seperti pembayaran lewat letter of credit (L/C), Kartu kredit, kartu debit dan sebagainya.

Dalam hukum tentang perdagangan internasional, apabila dilihat dari waktu dilakukannya pembayara, dikenal beberapa metode pembayaran sebagai berikut:

  • Metode Pemabayaran Terlebih Dahulu.

Suatu sistem pembayaran dimana pihak penjual (eksportir) baru akan mengirirm barang dagangannya setelah menerima pengiriman harga barang.

  • Metode Pembayaran secara Open Account.

Metode ini kebalikan dari metode pembayaran terlebih dahulu. Dengan metode pembayaran secara open account ini, justru harga baru dibayar oleh pembeli setelah harga diterima oleh penjual.

  • Metode Pembayaran atas Dasar Konsinyasi.

Pembayaran dilakukan lebih lama lagi, sebab harga barang bary dibayar pada saat barang tersebuttelah dijual lagi oleh pembeli kepada pihak ketiga dan harga sudah dilunasi oleh pihak ketiga tersebut kepada pihak pembeli.

  • Metode Pembayaran secara Documentary Collection.

Metode ini dilakukan dengan menggunakan dokumen Bills of Exchange.Yakni harga barang segera harus dibayar setelah shipping documents tiba di banknya importir.

 

 

 

  • Metode Pembayaran secara Documentary Credit.

Pembayaran dilakukan dengan memakai dokumen Letter of Credit (L/C). Dalam hal ini pembayaran dilakukan tanpa menunggu tibanya barang atau tibanya dokumen.

3. Imbal Beli Internasional

Transaksi imbal beli disebut juga dengan istilah “barter”, “counter purchase” atau “couter trade” adalah suatu jenis transaksi dagang dimana sebuah perusahaan mengekspor barang tertentu ke suatu negara dengan persyaratan bahwa dia juga harus mengimpor barang-barang lain dari negara tersbut sebagai imbalannya.

Secara sangat klasik imbal beli internasional ini disebut sebagai tukar-menukar atau “barter”. Banyak negara mempersyaratkan agar dalam bisnis teretentu dilakukan dengan cara barter ini. Yang merupakan motif mengapa dilakukan suatu transaksi secara imbal beli adalah sebagai berikut:

  1. Ada negara yang tidak mempunyai punya cukup devisa untuk melakukan pembayaran atas jual-beli suatu produk.
  2. Terkadang devisa cukup tersedia, tetapi lebih diprioritaskan untuk bidangbidang lain.
  3. Kesempatan bagi negara pembeli untuk menggenjot ekspornya.

Adapun yang menjadi dasar hukum dari suatu kontrak imbal beli adalah sebagai berikut:

  1. Ketentuan Umum tentang Kontrak dalam Kitab Undang-Undang  HukumPerdata.
  2. Ketentuan KUH Perdata tentang Jaual Beli.
  3. Ketentuan KUH Perdata tentang Tukar Menukar.
  4. Kebiasaan dalam Perdagangan Internasional.
  5. Hukum Perdata Internasional.
  6. International Convention.
  7. Hukum Internal Lainnya, seperti Hukum tentang Ekspor-Impor, L/C, Moneter, Perbankan dan lain-lain.

Dilihat secara yuridis, ada berbagai jenis transaksi dengan cara imbal beli ini, yaitu sebagai berikut:

  • Commercial Couter Trade

Suatu imbal beli dimana suatu negara setuju menjual produknya ke Negara lain dan sebagai imbalannya negara lain tersebut setuju untuk membeli barang tertentu dari miyra dagangannya itu.

  • Industrial Counter Trade

Sebuah negara industri menjual peralatan canggih kepada negara lain dengan imbalan negara tersebut membeli produk yang dihasilkan ileh industri tersebut.

  • Counter Purchase

Sebuah perusahaan swasta di suatu negara menjual suatu produk ke perusahaan di negara lain dengan imbalan dimana dia juga harus membeli produk tertenetu lainnya darai negara lain tersebut.

  • Compensation/Buy Back

Suatu imbal beli diamana suatu negara setuju menjual produknya ke Negara lain dan sebagai imbalannya negara lain tersebut setuju untuk membeli barang tertentu dari mitra dagangnya itu.

  • Barter

Suatu model imbal beli yang paling sederhana dimana yang terjadi adalah semacam tukar lepas. Suatu benda ditukarkan dengan benda lain tanpa perlu mengaitkan harga.

  • Perjanjian Swap

Swap merupakan transaksi antara 3 (tiga* pihak atau lebih dimana untuk menghemat ongkos-ongkos, dilakukan pertukaran pengiriman barang.

  • Perjanjian Clearing

Perjanjian 2 (dua) negara dimana masing-masing negara saling membeli produk yang berbeda sampai jumlah tertentu dalam waktu tertentu. Untuk dapat terlaksana dibukalah clearing account atau evidenceaccount.

  • Swicth Trading

Dalam perjanjian clearing, jika ada pihak tidak dapat memenuhi prestasinya, maka timbulah angka kredit pada clearing account. Tetapi, dengan switch trading, [ihak yang tidak dapata memenuhi prestasinya dapat menunjuk pihak ketiga untuk mensubstitusinya (biasanya dengan suatu harga discount khusus).

  • Transaksi Offset

Transakasi offset merupakan bentuk kombinasi antara kewajiban menyupali barang ke negara lain berdasarkan suatu kontrak, tetapi di lain pihak ada kewajiban untuk membeli barang-barang spareparts atau barang-barang lain dari negara yang disuplai tersebut.

  • Program Import Entitlement

Program yang berlandaskan kepada pembelian paralel. Pihak yang menjual barang ke negara tertentu diberikan perlakuan khusus seandainya dia juga membeli barang tertentu dengan nilai yang sama dari negara tersebut.

  • Perjanjian Framework

Dalam hal ini dibuat suatu kontrak jangka panjang, dimana dilakukan pertukaran ekspor secara rutin berdasarkan on going basis. Dalam hal ini kekurangan dan kelebihan pasokan dihitung dengan escrow.

  • Imbal Beli Pro Active

Pihak pemasok barang sebelum memasok barangnya justru terlebih dahulu membeli barang-barang tertentu dari negara tujuan tersebut.

  • Reverse Counter Trade

Disebut juga dengan positive counter adalah bahwa pihak yang akan melakukan transaksi dengan negara lain justru lebih senang melakukan deal secara imbal beli daripada deal tunai (degan hard currency).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: