KOPERASI SIMPAN PINJAM

· Uncategorized
Authors

KOPERASI SIMPAN PINJAM

By : AMALUDIN, SIP, MM

KESOKOGURUAN Koperasi sebagai wadah pemberdaya ekonomi rakyat, ~ diakui atau tidak sudah semakin redup dan cenderung akan sirna. Padahal para pendiri Republik ini telah memeteraikan koperasi dalam UUD 1945 sebagai bangun usaha yang paling tepat untuk menyelenggarakan perekonomian negara. Kini, cap dan meterai itu sudah lekang. Orde reformasi telah melepaskan meterai koperasi tersebut dari UUD 1945 melalui TAP MPR RI.

Memang ada yang tidak setuju. Salah satu diantaranya adalah Prof Dr. Mubyarto ~ pejuang Ekonomi Pancasila ~sangat marah dan bahkan mengundurkan diri dari tim pakar ekonomi bentukan Badan Pekerja MPR (Maret-Mei 2001) sebagai konsekuensi dihilangkannya kata koperasi dari proses amandemen penjelasan UUD 1945 tersebut. Apakah ada yang “something wrong” disana sehingga mengakibatkan koperasi tidak bersinar ? Tulisan ini mencoba meneropong persoalan itu.

Bila dituntut dari perspektif sejarah koperasi Indonesia, maka dapat ditarik suatu benang merah bahwa koperasi Indonesia lahir dan bertumbuh dari “proses simpan pinjam”. Artinya, koperasi yang ada saat ini diawali dari adanya kegiatan simpan pinjam yang kemudian berkembang dengan memiliki berbagai unit bisnis lain. Dalam perkembangannya, koperasi tanpa ada unit simpan pinjamnya akan terasa hambar. Ini menandakan sudah terbentuk suatu budaya dalam koperasi bahwa unit bisnis simpan pinjam harus tetap melekat pada diri setiap koperasi.

Dari catatan sejarah tersebut dapat diambil hipotesis bahwa Koperasi Simpan Pinjam ataupun Unit Simpan Pinjam adalah merupakan embryo berkembang-mekarnya suatu koperasi. Ilmu biologi mengajarkan kualitas embryo sangat menentukan kualitas perkembangan anak pada tahap berikutnya. Bila embryo yang sudah ada salah urus selama masa kandungan, maka dapat dipastikan anak tersebut akan kurang berkualitas. Demikian juga koperasi, jika kualitas embryonya sangat rendah, maka pertumbuhan berikutnyapun jangankan sebagai tulang punggung atau soko guru perekonomian nasional, mengurus dirinyapun dia sudah tidak mampu. Istilah di lapangan disebut “ngos-ngosan”. Oleh sebab itu, bisnis simpan pinjam yang menjadi embryo untuk berkembang tidaknya suatu koperasi, seyogyanyalah jangan sampai salah urus selama tahap perkembangannya.

Ini perlu ditekankan bagi generasi yang akan datang, sebagai pelajaran bahwa koperasi Indonesia pernah mencatat sejarah yang kelabu. Kita masih sempat menyaksikan lahirnya koperasi-koperasi ibarat jamur bermunculan di musim hujan. Ribuan koperasi yang “dilahirkan” tersebut ternyata tanpa embryo yang berkualitas. Mereka dilahirkan hanya sekedar untuk meraup KUT (Kredit Usaha Tani). Dan saat ini setelah 4 tahun berlalu, kita juga kembali memelototi koperasi yang dilahirkan tadi ternyata telah sirna tanpa bekas. Terkubur tanpa ada yang merasa pengubur.

 


Paradigma KSP

Jatidiri koperasi “dari anggota, oleh anggota, untuk anggota” mulai digugat oleh lingkungan global. Apakah masih relevan jatidiri seperti itu dipertahankan di alam perdagangan bebas ? Kelihatannya memang terlalu kaku. Padahal manajemen modern selalu berpesan pada manajernya agar terus berimprovisasi, fleksibel, dan terbuka terhadap setiap perubahan. Seiring dengan hal itu, pantas juga dipertanyakan kembali apakah tidak lebih akomodatif bila jatidiri Koperasi  tersebut digeser menjadi “dari anggota dan bukan anggota, oleh anggota dan bukan anggota untuk anggota”. Dalam hal ini ada tuntutan perubahan paradigma koperasi. Jadi yang tidak berubah adalah tujuan akhir dari koperasi itu sendiri yaitu “untuk kepentingan ekonomi anggota”.

Bila pergeseran jatidtri koperasi ini dapat diterima oleh para koperasiawan, maka paradigma baru ini akan membawa konsekuensi internal yang mendasar bagi manajemen koperasi. Demikian pula pengertian koperasi itu sendiri yang telah tertancap dalam UU Perkoperasian No.25/1992 dan PP No.9 tahun 1995 Tentang Pelaksanaan Usaha Simpan Pinjam juga harus mengalami perubahan. Memang pasti banyak yang menggerutu akibat perubahan ini. Tetapi bukankah hanya melalui perubahan itu sendiri yang dapat membawa perbaikan? Kata orang bijak, “if you don’t change you die”. Artinya, bila kita tidak mengikuti perubahan itu sendiri maka kita tidak akan dapat bertumbuh dan berkembang.

Tak terkecuali koperasi. Koperasipun harus ikut berubah bilamana ingin maju dan berkembang. Sejarah koperasi Indonesia sudah mencatat bahwa maju berkembangnya koperasi diawali dengan berkualitas tidaknya proses simpan-pinjam di koperasi tersebut. Ingat bukan “pinjam -simpan”. Dengan demikian, bukankah sebaiknya kita mulai membenahi koperasi ini dengan menata ulang secara mendasar Koperasi Simpan Pinjam (KSP) ataupun koperasi yang memiliki Unit Simpan Pinjam (USP) ?

Bertitik tolak dari pandangan (point of view) yang demikian, maka sangat wajar harus didukung penuh kebijakan Menteri Koperasi dan UKM Alimarwan Hanan yang saat ini sedang bergelut dan berupaya untuk merevitalisasi KSP ataupun USP. Adanya rencana kebijakan merevitalisasi 150 KSP dengan suntikan modal sebesar Rp. 1 milyard per KSP pada program tahun 2004 harus dioptimalkan, sehingga sejak dini perlu dicermati secara hati-hati. Peristiwa dilahirkannya koperasi-koperasi demi “suksesnya” penyaluran KUT kiranya dapat dijadikan suatu kontemplasi yang hasil akhirnya ternyata kurang menggembirakan bagi pertumbuhan koperasi itu sendiri.

Oleh sebab itu, paradigma revitalisasi KSP dan atau USP harus dipandang dalam rangka menggerakkan ekonomi nasional secara bersama. Disini peran KSP/USP sangat strategis terutama untuk melayani permodalan ataupun menampung simpanan/deposito para Usaha Kecil (Iihat gambar Domain Segmen Pelayanan KSP/USP). Konsequensinya, apa yang dikatakan oleh Prof.Dr.Jochen Ropke, dalam bukunya “The Economic Theory of Cooperatives” dari Philipps University Marburg Germany, menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut di atas. Dikatakan, dalam menggunakan definisi koperasi harus hati-hati dan jangan terlalu banyak mengambil pengertian dari definisi koperasi yang berdasarkan pada kriteria identitas ( owners = customers = users). 

Dominan Segmen Pelayanan KSP/USP

Jadi paradigma pemberdayaan KSP/USP kedepan harus menetapkan segmen pelayanannya. Tulisan ini menyarankan sebaiknya Usaha Kecil saja yang menjadi domain utama sebagai segmen pelayanan KSP/USP. Kalaupun menyentuh usaha menengah, jumlahnya relatif sangat kecil (lihat bagian gambar yang diplot). Dengan mengutip data BPS ~Kementerian Koperasi & UKM (2002), jumlah UK ada sebanyak 40.137.773 unit. Ini berarti jumlah UK yang menjadi segmen pelayanan KSP/USP dapat diproyeksikan kurang lebih 54% atau sebanyak 22.000.000 Unit. Sedangkan UM yang dilayani diproyeksikan 5% atau sekitar 2.800 unit. Ada 3 dasar utama bagi KSP/USP mengapa Usaha Kecil saja yang menjadi domain pelayanan KSP/USP. Pertama, Usaha Kecil tidak begitu membutuhkan modal kerja maupun investasi yang cukup besar. Menurut amatan penulis suntikan bahwa modal yang dibutuhkan per usaha kecil rata.-rata koperasi sekltar Rp. 10 juta. Dengan modal sebesar itu mereka pada umumnya sudah dapat lebih cepat menggerakkan usahanya. Secara nasional, berarti KSP/USP hanya membuutuhkan dana sekitar Rp. 20 triliun rupiah. Cukup kecil bila dibandingkan dengan bantuan pemerintah dalam membayar bunga BLBI sekitar Rp.80 triliun setiap tahunnya. Penulis yakin, pengembaliannyapun akan lebih lancar sepanjang tidak ada biaya-biaya siluman untuk memperolehnya. Kedua, Usaha Kecil lebih dominan menggunakan sumber daya lokal sehingga tidak begitu berpengaruh terhadap fluktuasi valuta asing. Faktor ini mengakibatkan usaha kecil lebih stabil, sehingga pembayaran cicilan pinjaman pun relatif akan lebih pasti. Ketiga, Usaha Kecil masih memiliki budaya malu bila mereka tidak membayar utangnya.

Sekali lagi, memang diakui bahwa paradigma yang ditawarkan tersebut di atas akan mengalami benturan dengan definisi KSP/USP yang telah terkristalisasi dalam benak masyarakat kita termasuk para pembinanya. Secara sederhana, koperasi yang menerima simpanan-simpanan dan deposito dari para anggotanya serta memberikan pinjaman bagi anggota yang sarna hanya itulah yang disebut KSP.

 

 


Konflik Kepentingan dalam KSP

Asumsikan bahwa kendala legalisasi tidak ada masalah bila KSP/USP diperbolehkan menghimpun dana dari masyarakat luas koperasi (tidak hanya terpaku lagi dari anggota), maka dapat diproyeksikan akan terjadi konflik kepentingan antara anggota dengan non anggota (Perhatikan Gambar Kepentingan Anggota Vs non Anggota). Sebagai anggota KSP/USP ada 3 peran yang dimilikinya yaitu 1) sebagai pemilik (owner), maka dia berkewajiban, menjaga kelangsungan hidup koperasinya. Untuk itu anggota harus melakukan pengawasan yang ketat terhadap pengelolaan KSP/USPnya, 2) sebagai pelanggan (customers) maka dia berhak mendapatkan pelayanan prima dari koperasinya. Dari sisi ini, tuntutan agar KSP/USPnya memprioritaskan pelayanan kepada mereka adalah wajar, dan 3) sebagai pengguna (user) maka dia berhak untuk menentukan arah program KSP/USPnya. Disisi lain, non anggota sebagai investor di KSP juga berhak mendapatkan pelayanan yang maksimal atau memperoleh manfaat yang tinggi dari koperasi. Bila tidak demikian mereka (non anggota) tidak akan mau berpartisipasi di KSP/USP. Mereka akan memilih bank sebagai tempat menyimpan uangnya ataupun berinvestasi dengan badan usaha non Koperasi/KSP/USP.

Belum lagi dikaitkan dengan misi pemerintah dimana KSP/USP diharapkan sebagai lembaga non bank ataupun lembaga keuangan mikro (LKM) yang mampu menghimpun dan menyalurkan dananya ke UKM-UKM. Semua kepentingan tersebut akan mengalami benturan di lapangan manakala kebutuhan salah satu unsur tidak terpenuhi.

 

Kepentingan Anggota Vs Non Anggota

Ketiga kepentingan tersebut dapat saja bersamaan atau bersinggungan satu sama lain, walaupun mungkin juga terjadi tumpang tindih pada tingkat tertentu. Barangkali ini yang disebut “pura-pura harmonis”, dimana sebenarnya secara hakiki terjadi konflik kepentingan yang sama.

Tentu saja konflik kepentingan ini sangat potensial untuk merusak koperasi sebagai badan usaha atau “entity business“. Sekali rusak, maka untuk membangun citra KSP/USP kembali relatif sangat sulit dan membutuhkan waktu yang lama guna memulihkannya di mata masyarakat. Untuk itu, system operasional prosedure (SOP) dan standarisasi pelayanan kepada anggota dan non anggota menjadi hal yang sangat urgent bagi KSP/USP itu sendiri.

Perlu disadari bahwa koperasi adalah merupakan struktur kompleks yang terdiri dari sejumlah individu atau kelompok yang berbeda, yang memiliki kepentingan yang tidak selamanya harmonis. Kepentingan individu dan kemampuan personal untuk memanfaatkan fasilitas koperasi juga berlainan. Ditinjau dari sudut ini, maka koperasi yang keanggotaannya atau kelompok partisipantnya lebih heterogen, akan memiliki potensi lebih tinggi terjadinya konflik. Johnston dan Clark (1982) dalam bukunya “Redesigning Rural development, A Strategic Perspective” mengatakan “jika terjadi terlalu banyak konflik, akan banyak menuntut waktu, energi, komitmen pemecahan masalahnya yang pada gilirannya partisipasi aktif tidak dapat dikerahkan dengan optimal”.

Seide dengan pengamatan Johnston dan Clark di atas, kasus “tanah” KPDK (Koperasi Pegawai Departemen Koperasi) dapat dijadikan sebagai contoh. Konflik terfalu sering terjadi. Kelompok kepentingan seperti anggota mutasi, pensiunan, anggota aktif, pengurus, pejabat, anggota baru, anggota lama, anggota yang sudah keluar, anggota yang sudah meninggal ternyata memiliki kepentingan yang berbeda baik dalam memecahkan masalah maupun dalam memanfaatkan fasilitas koperasi.

Itulah sebabnya untuk mendeteksi potensial konflik di Koperasi/KSP/USP, Ropke menyarankan yang pertama-tama dilakukan adalah memetakan sumber-sumber konflik yang potensial dengan mengelompokkan menjadi kelompok-kelompok kepentingan dan kemudian membahas tujuan yang relevan dengan kepentingan kelompok tersebut.

Perspektif KSP/USP yang berorientasi tidak lagi hanya kepada anggota tetapi juga non anggota akan menambah tingkat keheterogenan di koperasi. Konsequensinya, situasi demikian akan meningkatkan koflik. Sumberdaya organisasi untuk mengatasi masalah itupun akan lebih banyak digunakan. Secara tidak langsung akan menciptakan de-efisiensi di KSP/USP. Oleh sebab itu, untuk meminimalkan biaya konflik -mau tidak mau –membutuhkan pengawasan yang ketat dan transparant dari pemerintah. Karena dengan demikianlah akan terbangun kepercayaan stakeholders khususnya yang non anggota mau menginvestasikan modalnya ke KSP/USP dan terpeliharanya harmonisasi kepentingan di KSP/USP.

 

Kinerja Permodalan KSP / USP

Seperti yang disinggung di atas bahwa hampir semua koperasi memiliki unit usaha yang berkaitan dengan simpan-pinjam ataupun setidaknya perkreditan. Dengan menggunakan asumsi dasar ini, maka tulisan ini mencoba merentangkan potret kinerja permodalan koperasi Indonesia dalam 5 tahun terakhir yang di dalamnya telah tercakup apa yang disebut usaha simpan pinjam di Koperasi (KSP/USP). Kendatipun cara-cara pengumpulan data masih banyak ketidaksempurnaannya dan belum menggambarkan fakta yang sebenarnya, namun rentang data ini setidaknya dapat menggambarkan kondisi koperasi di lapangan (Iihat Tabel Kinerja Permodalan Koperasi).

KINERJA PERMODALAN KOPERASI INDONESIA TAHUN 1997 – 2002 

No

Indikator

1997

1998

1999

2000

2001

G

1

Jumlah Koperasi

52,456

59,441

89,939

103,077

109,632

20.24

2

Anggota

19,286,992

20,128,283

22,529,199

27,295,893

27,660,905

9.43

3

Modal Sendiri (E)

4,644,526

5,121,962

5,270,475

6,816,950

7,161,921

11.44

4

Modal Luar (D)

4,610,046

4,330,986

12,466,651

12,473,404

12,739,847

28.93

 

R3/1

E Per Kop

88.54

86.17

58.60

66.13

65.33

-7.32

R3/2

E Per Anggota

0.24

0.25

0.23

0.25

0.26

1.83

R4/1

D Per Kop

87.88

72.86

138.61

121.01

116.21

7.23

R4/3

E Per D

1.01

1.18

0.42

0.55

0.56

-13.57

 

Secara absolut, jumlah lembaga koperasi, anggota, modal sendiri (Equity) dan modal luar (Debt) dalam 5 tahun terakhir (1997 -2001) bertumbuh setiap tahunnya dengan signifikan yaitu 20,24 %, 9,43 %, 11,44 %, dan 28,93 % secara berurutan. Suatu indikasi bagi kita bahwa animo masyarakat berkoperasi sebenarnya masih tergolong cukup baik.

Akan tetapi dari sisi kualitas pertumbuhan permodalan dan struktur permodalannya, tablel Kinerja Permodalan Koperasi menunjukan penurunan yang kurang menggembirakan. Pertumbuhan rata-rata Equity per koperasi per tahun sebesar -7,32 % (R3/1) dan cenderung menurun setiap tahunnya. Ini mengindikasikan bahwa koperasi kurang mampu menggalang atau menggali modal dari anggota koperasi sendiri. Atau barangkali animo anggota untuk menyimpan di koperasinya semakin menurun. Kalaupun data menunjukkan ada peningkatan anggota koperasi setiap tahunnya, hal ini diduga dapat terjadi karena ada niat tersembunyi dari anggota hanya untuk mendapatkan fasilitas atau bantuan yang lebih besar dari koperasinya.

Demikian pula bila dilihat pertumbuhan struktur permodalan Koperasi per tahunnya ternyata juga cukup memprihatinkan. Struktur permodalan ini sedikit banyak menggambarkan tingkat ketergantungan koperasi terhadap ekternal. Semakin kecil rasio modal sendiri terhadap modal luar (equity/debt) maka semakin besarlah tingkat ketergantungan kepada eksternal atau kepada pihak ketiga. Bila hal ini terjadi pada suatu koperasi, maka jangan heran apabila pengelola koperasi lebih mengutamakan kepentingan non anggota ketimbang kepentingan anggota. Pesan yang disampaikan oleh data ini kepada kita adalah bahwa untuk merevitalisasi KSP/USP yang selanjutnya akan berimplikasi terhadap penguatan koperasi secara keseluruhan, maka struktur permodalan koperasi/KSP/USP harus menjadi prioritas utama yang dibenahi terlebih dahulu. Bagaimana caranya? Kita mengenal istilah restrukturisasi utang. Dalam konteks koperasi ini maka yang perlu direstrukturisasi adalah modal luar. Salah satu alternatifnya ialah bahwa kredit program yang ada di setiap koperasi dapat dijadikan sebagai “modal penyertaan pemerintah” di Koperasi Bukankah pemerintah juga memiliki modal penyertaan berupa saham di beberapa perusahaan baik swasta maupun BUMN ?

 

 


Insentif Anggota KSP

Potret kinerja struktur permodalan koperasi yang telah dipaparkan di atas tentu tidak jauh perbedaannya dengan gambaran KSP/USP di lapangan. Amatan penulis menyimpulkan bahwa secara umum KSP/USP juga mengalami kesulitan dalam menghimpun dana dari anggotanya. Apalagi dari non anggota? Salah satu faktor penyebabnya adalah bahwa pelayanan KSP/USP kepada anggota dan non anggota tidak begitu dibedakan. Kalaupun ada insentif kepada anggota relatif sama dengan yang diterima non anggota. Padahal biaya pengorbanan anggota dalam bentuk tuntutan partisipasi sebagai pemilik jelas lebih tinggi daripada non anggota. Situasi yang demikian kurang memotivasi anggota untuk aktif berpartisipasi menabung atau mendepositiokan uangnya di Koperasi/KSP/USP.

Perlu direnung ulang bahwa seseorang mau berpartisipasi di koperasi bila dia akan memperoleh nilai manfaat lebih besar dari pada nilai pengorbanannya (Iihat Kurva Nilai Manfaat dan Partisipasi).

 

Nilai Manfaat dan Partisipasi

 Kurva “Nilai Manfaat dan Partisipasi” menjelaskan bahwa sepanjang nilai manfaat masih lebih besar dari pada nilai pengorbanan, maka angota maupun non anggota akan tetap berpartisipasi di koperasi. Nilai manfaat dapat diukur dari berbagai variable seperti berupa insentif, SHU yang dibagi, bunga simpanan yang lebih tinggi, pelayanan yang lebih cepat, jaminan simpanan yang pasti, dan atau hak-hak lain.

Perlu dipahami bahwa partisipasi adalah merupakan alat untuk memuaskan kebutuhan para stakeholders (anggota, non anggota/ deposant, dan pemerintah). Memang masih perlu dikaji ulang, apakah berkorelasi positif hubungan partisipasi dengan nilai manfaat yang diperoleh oleh anggota dan non anggota ? Secara teoritis, jawabannya ya. Misalkan anggota baik sebagai pemilik maupun pengguna merasa terpuaskan oleh pelayanan KSP/USP berupa nilai manfaat yang diperoleh, maka anggota tersebut akan terus memberikan partrisipasinya berupa modal dan non modal di KSP/USP. Seiring dengan hal itu, pemerintah atau non anggotapun demikian halnya. Pemerintahpun akan terus meningkatkan modal penyertaannya di KSP/USP sepanjang KSP/USP mampu memobilisasi ekonomi rakyatmelalui UK-UK yang ada sehingga rakyat semakin sejahtera.

 

Siklus Simpan Pinjam

Dari perspektif teori berpartis insentif, siklus simpan dulu baru pinjam akan terus mengalir selama proses insentif ini mampu memuaskan anggota maupun non anggota besar (Iihat Siklus Simpan Pinjam). Jika menganut strategi menghimpun modal dari anggota, maka insentif keanggotaan harus lebih signifikan daripada yang non anggota. Dan menurut penulis, untuk daerah pedesaan (rural) strategi ini masih yang terbaik dioptimalkan oleh KSP/USP. Sedangkan untuk daerah perkotaan (urban) KSP/USP sudah harus melakukan ekstensifikasi pelayanan kepada non anggota.

Dari seluruh rangkaiantulisan ini dapat disimpulkan bahwa selama KSP/USP dapat memuaskan kebutuhan anggota maupun non anggota kepentingan umum maka tingkat partisipasi mereka akan tetap tinggi. Untuk menjaga partisipasi yang tinggi ini, maka keunggulan kompetitif KSP/USP menjadi masalah sentral yang penting. Setidaknya, manfaat keunggulan KSP/USP minimal sama dengan yang diberikan pesaing ~non koperasi. Untuk itu, teori “harmonisasi” yaitu menseimbangkan kepentingan para stakeholders dan teori “konflik” yaitu mengoptimalkan sumberdaya internal dan ekternal demi kepentingan KSP/USP perlu diterapkan di KSP/USP.

 

 

 

 

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Koperasi merupakan suatu badan usaha bersama yang berjuang dalam

bidang ekonomi. Berdasarkan Undang-Undang nomor 25 Tahun 1992 tentang

pokok-pokok perkoperasian bahwa koperasi sebagai organisasi ekonomi rakyat

bertujuan untuk memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan

masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian naional

dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur

berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Dengan kata lain koperasi sebagai salah satu badan usaha yang melakukan

kegiatan berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai penggerak ekonomi

rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Dengan memperhatikan kedudukan

dan tujuan koperasi seperti tersebut diatas, maka peran koperasi sangatlah

penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat serta

dalam mewujudkan kehidupan demokrasi ekonomi yang mempunyai ciri-ciri

demokratis, kebersamaan, kekeluargaan, dan keterbukaan. Dalam kehidupan

ekonomi seperti itu koperasi seharusnya memiliki ruang gerak dan kesempatan

usaha yang luas yang menyangkut kepentingan kehidupan ekonomi rakyat.

Dalam kegiatannya koperasi mengelola berbagai bidang usaha bagi

anggotanya. Salah satu bidang usaha yang biasanya dikembangkan adalah Unit

Simpan Pinjam (USP). Hal ini sesuai dengan pasal 44 UU no 25 tahun 1992

1

 

 

Page 14

2

tentang pokok-pokok perkoperasian yang menyatakan” Bahwa koperasi dapat

menghimpun dana dan menyalurkannya melalui kegiatan Unit Simpan Pinjam

(USP) dari dan untuk anggota dan calon anggota koperasi yang bersangkutan

koperasi lain dan atau anggotanya”. Ketentuan-ketentuan tersebut menjadi dasar

bagi koperasi untuk melaksanakan Unit Simpan Pinjam (USP) baik sebagai salah

satu kegiatan koperasi.

Keberadaan KUD (USP) ini sangat membantu kehidupan masyarakat di

sekitarnya dengan bantuan pinjaman guna perluasan usahanya, menerima

simpanan dari masyarakat (USP), dan masih banyak lainnya. Unit Simpan

Pinjam (USP) sebagai lembaga keuangan yang bergerak disektor jasa keuangan

mempunyai kedudukan yang sangat vital dalam menunjang sektor riil yang

diusahakan oleh masyarakat koperasi. Bagi masyarakat dengan golongan

ekonomi lemah dan pengusaha kecil yang hanya mempuyai modal yang terbatas

unit ini sangat dibutuhkan dan dimanfaatkan oleh anggota koperasi dalam rangka

meningkatkan modal usaha maupun memenuhi kebutuhanya.

Masyarakat Indonesia sebagian besar adalah masyarakat golongan ekonomi

lemah dan pengusaha kecil yang hanya mempunyai modal berskala terbatas, pasti

akan menemui kendala di bagian modal yang dapat mengakibatkan mandegnya

usaha. Salah satu alternatif untuk mendapatkan tambahan permodalan adalah

dengan meminjam dari Koperasi Simpan Pinjam (KSP) atau Unit Simpan Pinjam

(USP). Dengan pinjaman tersebut diharapkan masyarakat akan terbantu dalam

menjaga kelangsungan usahanya.

 

 

Page 15

3

Baik KSP maupun USP mendapat modal dari anggota dalam bentuk

simpanan. Semakin banyak simpanan anggota, semakin besar pula modal USP,

yang berarti pula besarnya pinjaman yang dapat dipinjam anggota juga makin

bertambah.

Sebagai badan perantara keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat

dan menyalurkan kembali kepada masyarakat dalm bentuk pinjaman, USP harus

menjaga kepercayaan yang diberikan masyarakat dalam mengelola dana mereka.

Perwujudan dari kesungguhan USP dalam mengelola dana masyarakat adalah

dengan menjaga kesehatan kinerjanya karena kesehatan kinerja sangat penting

bagi suatu lembaga usaha. Dengan mengetahui tingkat kesehatan usaha,

masyarakat (anggota) dapat dengan mudah menilai kinerja lembaga tersebut.

Oleh karena itu, Menteri Koperasi Pengusaha Kecil dan Menengah

mengeluarkan Surat Keputusan No.194/KEP/M/IX/1998 tanggal 25 September

1998 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kesehatan Koperasi Simpan

Pinjam dan Unit Simpan Pinjam. Penilaian ini didasarkan pada 5 indikator

penilaian yaitu permodalan, Kualitas aktiva Produktif, Manajemen, Rentabilitas,

dan Likuiditas dengan batasan-batasan sesuai dengan surat keputusan tersebut

diatas.

Untuk menilai tingkat kesehatan USP diperlukan analisis beberapa aspek

sebagai tolak ukur yang sering dipakai adalah rasio atau indeks yang

menghubungkan data keuangan yang satu dengan data keuangan yang lain.

Batasa yang diberikan Dinas Koperasi adalah tentang seberapa besar atau

 

 

Page 16

4

prosentase kinerja keuangan yang memenuhi persyaratan USP untuk dinyatakan

sehat, serta tidak merugikan anggota.

USP yang ada di Kabupaten Kendal merupakan salah satu unit usaha KUD

yang masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Hal ini terlihat adanya USP yang

berdiri meski dengan modal yang relatif kecil. Meskipun sangat dibutuhkan

masyarkat, akan tetapi USP tetap tidak lepas dari masalah, misalnya kemunduran

bagi USP tertentu. Berikut daftar USP pada tahun 2003.

Tabel 1

Daftar Unit Simpan Pinjam (USP) Pada KUD se- Kabupaten Kendal

tahun 2003-2004

Pembukuan

No

Nama KUD

(USP)

No Badan Hukum

2003

2004

1 Dewi Sri

6444d/BH/PAD/KWK.11/X/96

Pembukuan

Pembukuan

2 Mina Jaya

9174b/BH/PAD/KWK.11/VIII/97

Pembukuan

Pembukuan

3 Sri Sadono

5655d/BH/PAD/KWK.11/IV/96

Pembukuan

Pembukuan

4 Dewi Shinta

8381b/BH/PAD/KWK.11/X/96

Pembukuan

Pembukuan

5 Pelita

5484a/BH/PAD/KWK.11/IX/96

Pembukuan

Pembukuan

6 Unggul

6447b/BH/PAD/KWK.11/IX/96

Pembukuan

Pembukuan

7 Remaja

8751c/BH/PAD/KWK.11/XII/96

Pembukuan

Tidak

8 Subur

8581c/BH/PAD/KWK.11/XII/96

Tidak

Tidak

9 Jelita

8578b/BH/PAD/KWK.11/IX/96

Pembukuan

Pembukuan

10 Rukun Tani

8981b/BH/PAD/KWK.11/X/96

Pembukuan

Pembukuan

11 Makmur

8381b/BH/PAD/KWK.11/IX/96

Pembukuan

Tidak

12 Agung

9448b/BH/PAD/KWK.11/IX/96

Modal kurang dari 15 juta

13 Dewi Ratih

6436a/BH/PAD/KWK.11/X/96

Pembukuan

Pembukuan

14 Harapan

3933d/BH/PAD/KWK.11/IX/96

Pembukuan

Tidak

15 Darma Tani

3852a/BH/PAD/KWK.11/X/96

Pembukuan

Pembukuan

16 Intan

9114c/BH/PAD/KWK.11/XII/96

Pembukuan

Pembukuan

17 Aneka Tani Jaya 9449b/BH/PAD/KWK.11/XI/96

Tidak

Tidak

18 Karya Tani

8729b/BH/PAD/KWK.11/XII/96

Tidak

Tidak

19 Karya Usaha

12923/BH/VI/XII/94

Modal kurang dari 15 juta

( Sumber data tahun 2003-2004)

 

 

Page 17

5

Dari tabel di atas terlihat bahwa perkembangan USP di kabupaten kendal

kurang baik yaitu pada tahun 2003 ada 3 USP yang sudah tidak melakukan

pembukuan lagi, sedangkan pada tahun 2004 bertambah menjadi 6 USP yang

tidak melakukan pembukuan. Disamping itu masih ada 2 USP dengan modal

kurang dari ketentuan DepKop yaitu 15 juta.

Sebaiknya masyarakat mengetahui keadaaan USP ini. Dengan harapan

masyarakat mengetahui keadaan USP yang ada di kabupaten Kendal dan USP

sendiri dapat mengetahui dan menjaga kesehatannya. Karena jika USP tidak

menjaga kesehatanya dikhawatirkan USP pada kabupaten Kendal akan terus

mengalami penurunan yang pada akhirnya semua USP di Kabupaten Kendal

tidak melakukan pembukuan lagi. Untuk itu setiap USP perlu memperhatikan

standar kesehatan USP berdasarkan ketetapan dari DepKop.

Melihat keadaan tersebut, penulis ingin mengetahui bagaimana keadaan

USP yang lain pada tahun selanjutnya. Oleh karena itu penulis berminat untuk

melakukan penelitian tentang Tingkat Kesehatan USP di Kabupaten Kendal

dengan judul ANALISIS TINGKAT KESEHATAN UNIT SIMPAN PINJAM

(USP)” (STUDI KASUS PADA KUD SE – KABUPATEN KENDAL)

I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang diatas mengenai pentingnya penilaian

tingkat kesehatan Unit Simpan Pinjam (USP) dalam membantu meningkatkan

nilai tambah dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi anggota, serta

 

 

Page 18

6

mempertahankan kelangsungan hidup unit simpan pinjam yang bersangkutan.

Permasalahan yang akan diteliti dalam penulisan skripsi ini adalah :

a. Bagaimana tingkat kesehatan masing-masing komponen (Permodalan,

Kualitas Aktiva Produktif, Manjemen, Rentabilitas, dan Likuiditas) pada Unit

Simpan Pinjam (USP) KUD di Kabupaten Kendal Tahun 2004-2005?

b. Komponen mana yang mengalami penurunan ataupun kenaikan skor tingkat

kesehatan pada (USP) KUD se-Kabupaten Kendal Tahun 2004-2005 ?

I.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

A. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui tingkat kesehatan masing-masing komponen

(Permodalan, Kualitas Aktiva Produktif, Manjemen, Rentabilitas, dan

Likuiditas) pada (USP) KUD di Kabupaten Kendal Tahun 2004-2005.

b. Untuk mengetahui komponen apa saja yang mengalami penurunan

ataupun kenaikan skor tingkat kesehatan pada (USP) KUD se-Kabupaten

Kendal Tahun 2004-2005.

B. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini , yaitu :

1. Bagi KUD

Hasil penelitian ini dapat bemanfaat sebagai saran dan pertimbangan bagi

pengurus dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan

pengelolaan koperasi khususnya di Unit Simpan Pinjam (USP).

 

 

Page 19

7

2. Bagi peneliti

Penelitian ini diharapkan akan dapat menambah pengetahuan atau

cakrawala berfikir dalam hal pengembangan wawasan di bidang ekonomi

dan perkoperasian serta sebagai ajang ilmiah untuk menerapkan berbagai

teori yang diperoleh dibangku kuliah dalam praktek di lapangan.

3. Bagi pembaca dan almamater

Semoga hasil pemelitian ini bermanfaat bagi pembaca dalam rangka

pemenuhan informasi dan referensi atau bahan kajian dalam menambah

khasanah ilmu pengetahuan khususnya perkoperasian dan simpan pinjam.

I.4. Sistematika Penulisan

Untuk menguraikan alur pikiran dalam penulisan hasil penelitian ini maka

secara garis besar skripsi ini dibagi dalam lima bab yang mencakup hal-hal yang

berhubungan dengan latar belakang masalah, landasan teori, metodelogi

penelitian, pembahasan, dan kesimpulan. Adapun sistematika dari penulisan ini

adalah:

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, rumusn

masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Berisi tentang telaah pustaka yang mendasari penelitian dan

mendukung langkah dalam analisis. Setelah itu dilanjutkan dengan

penelitian terdahulu dalam kerangka pikiran

 

 

Page 20

8

BAB III : METODELOGI PENELITIAN

Dalam bab ini diuraikan segala hal mengenai metode penelitian yang

mencakup variabel penelitian dan definisi, jenis data, sumber data,

dan metode analisis.

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Uraian tentang diskripsi objek penelitian serta analisis data dan

pembahasanya dilakukan dalam bab ini. Analisis dibagi dalam sub

bab yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan penelitian

sehingga memudahkan dalam melakukan pembahasan terhadap

hasilnya.

BAB V : PENUTUP

Bab terakhir dalam skripsi ini berisi tentang kesimpulan dan saran

yang berguna bagi KUD yang bersangkutan dalam menjalankan usaha

Unit Simpan Pinjam (USP).

 

 

Page 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Landasan teori

A. Pengertian Koperasi

Pengertian koperasi menurut UU No. 25 tahun 1992 adalah badan

usaha yang beranggotakan seorang atau badan-badan hukum koperasi yang

merupakan tingkat susunan ekonomi sebagai usaha bersama atas azas

kekeluargaan.

Sedangkan menurut ICA yang dirumuskan di Manchester pada tanggal

23 September 1995, koperasi didefinisikan sebagai perkumpulan yang

otonom dari orang-orang yang bergabung secara sukarela untuk memenuhi

kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial, dan budaya mereka yang sama

melalui perusahaan yang dimiliki dan diawasi secara demokratis.

Dengan kata lain definisi koperasi mengandung dua makna yakni

sebagai badan usaha yang mewadahi aktivitas-aktivitas usaha ekonomi

anggotanya dan sebagai semangat kebersamaan yang dilandasi paham

kekeluargaan untuk secara bersama-sama mengatasi masalah (persoalan

ekonomi).

Koperasi merupakan bagian yang menyeluruh dari perekonomian

nasional, baik sebagai badan usaha maupun sebagai gerakan ekonomi

rakyat, pembangunannya diarahkan untuk mengembangkan koperasi

menjadi makin maju, mandiri, dan berakar dalam masyarakat, serta menjadi

badan usaha yang sehat dan mampu berperan di semua bidang usaha

12

 

 

Page 22

10

terutama dalam kehidupan ekonomi rakyat, dalam upaya mewujudkan

demokarasi ekonomi berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar

1945.

Koperasi mempunyai fungsi dan peran yang sangat penting dalam

perekonomian negara, fungsi dan peran koperasi menurut UU No. 25 tahun

1992 adalah :

1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi

anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

2. Berperan secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan

manusia dan masyarakat.

3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan

ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko guru.

4. Berusaha untuk menunjukan dan mengembangkan perekonomian

nasional yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas azas

kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

B. Koperasi Unit Desa (KUD)

Koperasi Unit Desa KUD menurut Inpres nomor 2 tahun 1978 adalah

suatu organisasi ekonomi yang berwatak sosial dan merupakan wadah bagi

pengembangan berbagai kegiatan ekonomi masyarakat pedesaan yang

diselenggarakan oleh dan untuk masyarakat pedesaan itu sendiri, serta

memberikan pelayanan bagi anggotanya dan masyarakat pedesaan (Depkop,

1992 :75).

Sedang Pengertian Koperasi Unit Desa (KUD) menurut Azis

(1994:30) adalah organisasi ekonomi yang merupakan tempat

pengembangan kegiatan ekonomi pedesaan yang diselenggarakan oleh dan

 

 

Page 23

11

untuk masyarakat pedesaan, serta memberikan pelayanan bagi anggotanya

dan masyarakat pedesaan.

Dengan demikian pengertian Koperasi Unit Desa KUD adalah

organisasi ekonomi yang merupakan tempat pengembangan kegiatan

ekonomi masyarakat yang diselenggarakan oleh dan untuk masyarakat

pedesaan, serta memberikan pelayanan bagi anggotanya dan masyarakat

pedesaan.

Meskipun sebagai suatu organisasi ekonomi KUD juga mencari laba,

tetapi lebih menitik beratkan pada usaha sosial yaitu untuk meningkatkan

kesejahteraan anggotanya dan masyarakat desa pada umumnya.

Dalam rangka memberikan pelayanan dalam kegiatan prekonomian

bagi masyarakat pedesaan, KUD memiliki dan melaksanakan fungsinya

sebagai berikut:

1. Perkreditan

2. Penyediaan dan penyaluran sarana-sarana produksi bagi barang

keperluan sehari-hari dan jasa-jasa lain.

3. Pengolahan dan pemasaran hasil produksi rakyat.

4. Kegiatan perekonomian lainnya.

(Sukamdiyo 1996:137).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa KUD merupakan koperasi

serba usaha yang memberikan pelayanan usaha dalam kegiatan

perekonomian terutama didaerah pedesaan seperti : perkreditan , penyediaan

jasa, sarana dan prasarana pertaniaan, produksi, konsumsi , perdagangan.,

Jasa lain seperti simpan pinjam

 

 

Page 24

12

C. Unit Simpan Pinjam

Unit Simpan Pinjam adalah suatu unit usaha koperasi atau KUD yang

mempunyai fungsi dan tugas utama dalam melakukan kegiatan simpan

pinjam bagi anggotanya baik secara langsung dari koperasi tersebut ataupun

melalui kelompok-kelompok anggota (Depdagkop, 1992: 4)

Simpan Pinjam adalah salah satu jenis usaha yang dijalankan oleh

koperasi dengan melakukan penyimpanan dana kepada dan dari anggota

koperasi baik yang berupa tabungan ataupun kredit dengan tujuan untuk

menggalang dana dan menyalurkannya bagi peningkatan kesejahteraan

anggota (Toha, 2000 : 161).

Pengertian USP menurut Peraturan Pemerintah nomor 9 tahun 1995

adalah salah satu unit kegiatan dari koperasi yang melayani jasa

penyimpangan dana dan pemberian pinjaman dana bagi anggotanya sebagai

bagian dari kegiatan usaha yang dilakukan oleh koperasi tersebut.

Kegiatan utama dari USP adalah menghimpun dana dari anggota dan

menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit kepada anggotanya. Pada

USP di KUD ini terdapat 3 macam jenis kredit yang dapat diberikan antara

lain :

a. Kredit untuk produksi

b. Kredit untuk paceklik

c. Kredit untuk pedagang kecil pedesaan yang disebut Kredit Candak

Kulak (KCK).

 

 

Page 25

13

D. Penilaian Kesehatan Unit Simpan Pinjam

Sesuai dengan diterbitkannya surat keputusan Menteri Koperasi,

Pengusaha Kecil Menengah No. 194/KEP/M/IX tanggal 25 September 1998

tentang petunjuk pelaksanaan penilaian kesehatan Koperasi simpan pinjam

dan Unit Simpan Pinjam. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu diatur

tentang ketentuan pelaksanaan penilaian tingkat kesehatan Unit Simpan

Pinjam.

Tingkat kesehatan merupakan hasil penilaian kuantitatif atas berbagai

aspek yang berpengaruh terhadap kondisi USP. Melalui penilaian aspek

permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas, dan

likuiditas. Dari aspek-aspek tersebut diatas diberikan bobot penilaian sesuai

dengan besarnya pengaruh terhadap kesehatan koperasi. Penilaian aspek

dilakukan menggunakan sistem nilai kredit atau reward system yang

dinyatakan dalam angka dengan nilai kredit nol (0) sampai dengan seratus

(100).

Ketentuan mengenai tingkat kesehatan unit simpan pinjam

dimaksudkan untuk dipergunakan sebagai :

a. Tolak ukur bagi manajemen USP untuk menilai apakah pengelolaan

USP telah dilakukan sejalan dengan kriteria USP yang sehat dan sesuai

dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku

b. Tolak ukur untuk memantapkan arah pembinaan dan pengembangan

USP baik secara individual maupun industri perbankan secara

keseluruhan.

 

 

Page 26

14

E. Aspek-aspek Kesehatan USP

1. Permodalan

Modal Unit Simpan Pinjam berupa modal tetap dan modal tidak

tetap. Modal tetap dimaksudkan adalah meliputi modal yang disetorkan pada

awal pendiri, modal tambah dari koperasi yang bersangkutan, dan cadangan

yang disisihkan dari keuntungan koperasi. Modal tidak tetap dimaksudkan

adalah modal ini dapat berasal dari modal penyetaraan atau pinjaman pihak

ketiga, sepanjang hal tersebut dilakukan melalui koperasi yang

bersangkutan. Modal tidak tetap dapat diperoleh Unit Simpan Pinjam

melalui koperasinya sebagian simpanan yang berasal dari anggota, koperasi

lainnya dan atau anggotanya, bank dan lembaga keuangan lainnya,

penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya, dan sumber lain yang sah (PP

No. 9 tahun 1995).

Modal sendiri atau modal tetap yang disetor pada waktu

pembentukan USP disebut modal disetor. Jumlah modal disetor minimal

adalah Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah) untuk USP koperasi

sekunder (Kep. Menkop. Pengusaha kecil dan menengah

No.351/Kep/M/XII/1998). Ketentuan ini akan ditinjau kembali sesuai

dengan perkembangan perekonomian dan kelayakan usaha.

2. Kualitas Aktiva Produktif

Aktiva produktif sering juga disebut earning asset atau aktiva yang

menghasilkan, karena penempatan dana tersebut untuk mencapai tingkat

 

 

Page 27

15

penghasilan yang diharapkan. Aktiva produktif adalah kekayaan koperasi

yang mendatangkan penghasilan bagi koperasi yang bersangkutan.

Aktiva produktif yang diklasifikasikan adalah jumlah aktiva

produktif yang kolekbilitasnya tidak lancar. Oleh karena itu penanaman dana

dan kesigapan USP dalam menanggung kemungkinan timbulnya resiko

kerugian penanaman dana tersebut, mempunyai peranan penting dalam

menunjang usaha operasional USP.

Kualitas produktif dinilai atas dasar pengolongan kolektibilitas yang

terdiri atas lancar, kurang lancar, diragukan dan macet. Kemudian untuk

menutup kemungkinan resiko kerugian maka USP wajib membentuk

penyisihan penghapusan aktiva produktif. Besarnya penyisihan penghapusan

aktiva produktif yang harus dibentuk USP sekurang-kurangnya:

a. 0,5% dari aktiva produktif yang digolongkan lancar.

b. 10% dari aktiva produktif yang digolongkan kurang lancar setelah

dikurangi 75% dari nilai agunan yang dikuasai USP.

c. 50% dari aktiva produktif yang digolongkan diragukan setelah

dikurangi 75% dari nilai agunan yang dikuasai USP.

d.

100 % dari aktiva produktif yang digolongkan macet setelah dikurangi

75% dari nilai agunan yang dikuasai USP.

3. Manajemen

Pada dasarnya manajemen koperasi tidak jauh berbeda dengan

manajemen perusahaan industri manufaktur, perdagangan, dan perusahaan

 

 

Page 28

16

non bank yang lain. Fungsi manajemen perusahaan berikut juga diterapkan

dalam manajemen koperasi, termasuk untuk unit simpan pinjamnya :

1. Menyusun rencana kerja jangka pendek dan panjang termasuk

menentukan sasaran usaha yang ingin dicapai pada masa yang akan

datang.

2. Menyusun struktur organisasi yang efektif dan efisien.

3. Mengawasi pelaksanaan kegiatan bisnis

Secara ringkas ketiga fungsi manajemen diatas disebut kegiatan

perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan (Planning, Organizing, and

controlling)

Pada manajemen Unit simpan pinjam, pengelolaan Unit Simpan

Pinjam harus dilakukan secara professional dengan prinsip pengelolaan yang

sehat dan prinsip kehati-hatian. Pengelolaan kegiatan USP dapat dilakukan

oleh pengurus atau pengelola, Pengelola diangkat oleh pengurus dan

bertanggung jawab kepada pengurus. Pengelola dapat perorangan atau badan

usaha, termasuk yang berbentuk badan usaha, termasuk badan hukum

dengan sistem kerja keterkaitan dalam kontrak kerja (pasal 8 PP no. 9 Tahun

1995).

Pengelola USP dilakukan secara terpisah dari unit usaha lainnya,

baik dalam hal pengelolaan keuangan maupun permodalan. Dasar

pertimbangan pemisahan kegiatan USP dari unit usaha ini membutuhkan

spesifikasi yang berbeda dengan kegiatan usaha yang lain baik dalam hal

perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pengawasan, maupun administrasinya.

Hal ini dimaksudkan pula agar dana simpanan koperasi berjangka dan

 

 

Page 29

17

tabungan koperasi yang dipercayakan oleh penyimpan untuk disimpan di

koperasi aman dan cukup tersedia bila sewaktu-waktu ditarik kembali oleh

penyimpan.

Komponen penilaian dalam manajemen ini terdiri dari 5 (lima) sub

komponen yakni : permodalan, aktiva, pengelolaan, rentabilitas, likuiditas.

4. Rentabilitas

Rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara

laba dengan aktiva atau modal menghasilkan laba tersebut. Dengan kata lain

rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba

selama periode tertentu (Riyanto, 1995:35). Dalam hal ini rentabilitas adalah

kemampuan koperasi untuk memperoleh sisa hasil usaha.

Cara untuk menilai rentabilitas suatu perusahaan bermacam-macam

dan tergantung pada laba dan aktiva atau modal mana yang akan di

perbandingkan satu dengan lainnya. Menurut Soediyono Reksopriyatno

(1992:123) penilaian kesehatan rentabilitas didasarkan pada posisi laba/rugi

menurut pembukuan, perkembangan laba/rugi dua tahun terakhir dan

laba/rugi

5. Likuditas

Masalah likuditas adalah berhubungan dengan masalah kemampuan

suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus

dipenuhi. Dalam hal ini adalah kemampuan koperasi untuk memenuhi

kewajiban jangka pendek. Jumlah alat-alat pembayaran (alat-alat likuid)

yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu saat tertentu merupakan kekuatan

membayar dari perusahaan yang berasangkutan.

 

 

Page 30

18

Suatu perusahaan yang mempunyai “kekuatan membayar” belum

tentu dapat memenuhi segala kewajiban finansiilnya yang segera harus

dipenuhi, atau dengan kata lain perusahaan tersebut belum tentu mempunyai

“kemampuan membayar” (zahlungsfahigkeit). Suatu perusahaan dikatakan

likuid apabila perusahaan tersebut mempunyai “kekuatan membayar”

sedemikian besarnya sehingga mampu memenuhi segala kewajiban

finansiilnya yang segera harus dipenuhi, sebaliknya perusahaan yang tidak

mempunyai “kemampuan membayar” dikatakan mengalami likuid

(Riyanto,1995:25-26)

F. Kriteria Kesehatan USP

Kreteria Tingkat kesehatan USP dinilai dengan pendekatan kualitatif

atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi dan perkembanagan

suatu unit simpan pinjam (USP). Pendekatan kualitatif diperlukan karena

masing-masing aspek penilaian tingkat kesehatan mengandung berbagai

komponen yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi.

Pelaksanaan penilaian terhadap aspek-aspek tersebut dilakukan dengan

cara :

1. Mengkuantifikasikan beberapa komponen penting dari masing-masing

faktor tersebut.

2. Atas dasar kuantifikasi komponen-komponen penting tersebut dilakukan

penilaian lebih lanjut dengan memperhatikan aspek lain yang secara

materiil berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan masing-

masing aspek.

 

 

Page 31

19

Dari aspek-aspek tersebut diatas diberikan bobot penilaian sesuai

dengan besarnya pengaruh terhadap kesehatan koperasi. Penilaian aspek

dilakukan menggunakan sistem nilai kredit atau reward system yang

dinyatakan dalam angka dengan nilai kredit nol (0) sampai dengan seratus

(100).

Tingkat kesehatan USP digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu

sehat, cukup sehat, kurang sehat dan tidak sehat. Penetapan predikat tingkat

kesehatan USP tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1 Penggolongan Tingkat kesehatan USP

SKOR

PREDIKAT

81 ≤ 100

66 ≤ 81

51 ≤ 66

0 ≤ 51

SEHAT

CUKUP SEHAT

KURANG SEHAT

TIDAK SEHAT

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

Adapun analisis tingkat kesehatan bank dilakukan dengan

penilaian pada :

1. Penilaian Permodalan

Dalam aspek permodal, komponen yang dinilai meliputi

perbandingan (rasio) modal sendiri terhadap asset dan rasio modal sendiri

terhadap pinjaman diberikan yang beresiko. modal sendiri meliputi: modal

disetor, modal tetap tambahan, cadangan sedangkan total asset meliputi :

kas/bank, tabungan, simpanan dan deposito, surat-surat berharga, piutang

anggota dan pihak lain, penyertaan pada koperasi, anggota dan pihak lain,

aktiva tetap. Pinjaman yang diberikan beresiko adalah pinjaman yang tidak

memiliki agunan atau memiliki agunan akan tetapi tidak cukup.

 

 

Page 32

20

Untuk memperoleh rasio antara modal sendiri terhadap total asset ,

ditetapkan sebagai berikut:

Rasio permodalan 1:

Asset

Total

Sendiri

Modal

x100%

Adapun formulasi untuk menjadi kredit adalah sebagai berikut:

NK=

1,0

1

modalan

per

Rasio

+5 (maksimal 100)

Bobot untuk penilaian rasio ini maksimal adalah 10

Tabel 2.2 Penggolongan Tingkat kesehatan USP aspek permodalan 1

Kreteria

Hasil skor

Sehat

Cukup sehat

Kurang sehat

Tidak sehat

≥ 8,1

6,6 < 8,1

5,1 < 6,6

0 < 5,1

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

Untuk memperoleh rasio modal sendiri terhadap pinjaman diberikan yang

beresiko, ditetapkan sebagai berikut :

Rasio Permodalan 2=

Beresiko

Yang

Pinjaman

Sendiri

Modal

x100%

Adapun formulasi untuk menjadi kredit adalah sebagai berikut:

NK=

1,0

2

modlan

per

Rasio

+1 (maksimal 100)

Bobot untuk penilaian rasio ini maksimal adalah 10

Tabel 2.3 Penggolongan Tingkat kesehatan USP aspek permodalan 2

Kreteria

Hasil skor

Sehat

Cukup sehat

Kurang sehat

Tidak sehat

≥ 8,1

6,6 < 8,1

5,1 < 6,6

0 < 5,1

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

 

 

Page 33

21

2. Penilaian Kualitas Aktiva Produktif

Volume pinjaman pada anggota terdiri dari sisa pinjaman pada

anggota tahun lalu ditambah pinjaman kumulatif tahun buku yang

diberikan kepada anggota. Total volume pinjaman terdiri dari sisa

pinjaman tahun lalu ditambah pinjaman komulatif tahun buku penilaian

(baik kepada anggota maupun kepada non anggota ). Pinjaman yang

diberikan diperoleh dari total piutang dikurangi penghapusan piutang.

Resiko pinjaman bermasalah diperoleh dengan cara menjumlahkan dari

hasil perhitungna dibawah ini :

50% X pinjaman kurang lancar,

75% X pinjaman diragukan,

100% X pinjaman macet,

Untuk mengukur rasio antara volume pinjaman kepada anggota terhadap

total volume pinjaman diberikan , ditetapkan sebagai berikut:

Rasio KAP 1 =

Diberikan

Yang

Pinjaman

Volume

Total

Anggota

Pada

Pinjaman

Volume

x100%

Adapun formulasi untuk menjadi kredit adalah sebagai berikut:

NK=

1,0

rasio

+5 (maksimal 100)

Bobot untuk penilaian rasio ini maksimal adalah 10

Tabel 2.4 Penggolongan Tingkat kesehatan USP aspek KAP 1

Kreteria

Hasil skor

Sehat

Tidak sehat

≥ 60%

< 60%

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

Untuk memperoleh rasio antara resiko pinjaman bermasalah terhadap

pinjaman yang diberikan ,ditetapkan sebagai berikut:

 

 

Page 34

22

Rasio KAP 2 =

Diberikan

Yang

Pinjaman

Bermasalah

Pinjaman

siko

Re

x100%

Adapun formulasi untuk menjadi kredit adalah sebagai berikut:

NK=

1,0

%50 rasio

+2 (maksimal 100)

Bobot untuk penilaian rasio ini maksimal adalah 10

Tabel 2.5 Penggolongan Tingkat kesehatan USP aspek KAP 2

Kreteria

Hasil skor

Sehat

Cukup sehat

Kurang sehat

Tidak sehat

≥ 8,1

6,6 < 8,1

5,1 < 6,6

0 < 5,1

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

Rasio cadangan resiko terhadap resiko pinjaman bermasalah dihitung

dengan cara penilaian sebagai berikut :

Rasio KAP 3 =

Bermasalah

Pinjaman

Risiko

Risiko

Cadangan

x 100%

Cadangan risiko = Cadangan yang disisihkan dari pendapatan + cadangan

dari SHU

Adapun formulasi untuk menjadi kredit adalah sebagai berikut:

NK=

1,0

rasio

+1 (maksimal 100)

Bobot untuk penilaian rasio ini maksimal adalah 10

Tabel 2.6 Penggolongan Tingkat kesehatan USP aspek KAP 3

Kreteria

Hasil skor

Sehat

Cukup sehat

Kurang sehat

Tidak sehat

≥ 8,1

6,6 < 8,1

5,1 < 6,6

0 < 5,1

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

 

 

Page 35

23

3. Penilaian Manajemen

Penilaian manajemen meliputi beberapa sub komponen yaitu

permodalan, kualitas aktiva produktif, pengelolaan, rentabilitas dan

likuiditas. Perhitungan nilai kredit didasarkan kepada hasil penilaian atas

jawaban pertanyaan manajemen sebanyak 25 (dua puluh lima) yang sudah

di tetapkan dalam buku petunjuk teknik penilaian kesehatan koperasi

simpan pinjam dan unit simpan pinjam. Selanjutnya dilakukan kuantifikasi

dengan cara memberi nilai kredit sebesar 4 (empat) untuk 1 pertanyan

setiap aspek yang dinilai positif. Nilai kredit dikalikan bobot sebesar 25%

diperoleh skor manajemen.

Tabel 2.7 Penggolongan Tingkat kesehatan USP aspek manajemen

Kreteria

Hasil skor

Sehat

Cukup sehat

Kurang sehat

Tidak sehat

≥ 4,05

3,3 < 4,05

2,55 < 3,3

0 < 2,55

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

4. Penilaian Rentabilitas

Penilaian kuantitas terhadap rentabilitas didasarkan pada 3 (tiga)

rasio yaitu rasio SHU sebelum pajak terhadap pendapatan operasional,

SHU sebelum dikenakan pajak tehadap total asset tersebut, dan rasio

beban operasional terhadap pendapatan operasional.

Pendapatan operasional meliputi :Pendapatan bunga yang diterima

dari : pemberian pinjaman, giro, tabungan, deposito, penanaman surat

berharga Pendapatan dari provisi dan komisi. Beban operasional meliputi

biaya bunga, biaya provisi dan komisi, biaya umum dan administrasi,

biaya organisasi

 

 

Page 36

24

Cara perhitungan rasio SHU sebelum dikenakan pajak terhadap

pendapatan operasional, ditetapkan sebagai berikut :

Rasio Rentabilitas 1=

l

Operasiona

Pendapa

Pajak

Sebelum

SHU

tan

x 100%

Adapun formulasi untuk menjadi kredit adalah sebagai berikut:

NK=

1,0

1

Rentabilitas

Rasio

+1 (maksimal 100)

Bobot untuk penilaian rasio ini maksimal adalah 10

Tabel 2.8 Penggolongan Tingkat kesehatan USP aspek rentabilitas 1

Kreteria

Hasil skor

Sehat

Cukup sehat

Kurang sehat

Tidak sehat

≥ 4,05

3,3 < 4,05

2,55 < 3,3

0 < 2,55

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

Perhitungan nilai rasio SHU sebelum dikenakan pajak terhadap total asset,

ditetapkan sebagai berikut :

ROA=

Asset

Total

Pajak

Sebelum

SHU

x 100%

Adapun formulasi untuk menjadi kredit adalah sebagai berikut:

NK=

05,0

ROA

Rasio

+10 (maksimal 100)

Bobot untuk penilaian rasio ini maksimal adalah 10

Tabel 2.9 Penggolongan Tingkat kesehatan USP aspek rentabilitas 2

Kreteria

Hasil skor

Sehat

Cukup sehat

Kurang sehat

Tidak sehat

≥ 4,05

3,3 < 4,05

2,55 < 3,3

0 < 2,55

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

 

 

Page 37

25

Perhitungan nilai kredit dari rasio beban operasional terhadap pendapatan

operasional dalam periode satu tahun buku, ditetapkan sebagai berikut :

BOPO=

l

Operasiona

Pendapa

l

Operasiona

Beban

tan

x 100%

Adapun formulasi untuk menjadi kredit adalah sebagai berikut:

NK=

05,0

100 rasioBOPO

+ 10 (maksimal 100)

Bobot untuk penilaian rasio ini maksimal adalah 5

Tabel 2.10 Penggolongan Tingkat kesehatan USP aspek rentabilitas 2

Kreteria

Hasil skor

Sehat

Cukup sehat

Kurang sehat

Tidak sehat

≥ 4,05

3,3 < 4,05

2,55 < 3,3

0 < 2,55

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

5. Penilaian Likuiditas

Dana diterima USP meliputi: Modal tetap ( modal disetor, modal

tetap tambahan dan cadangan), Modal tidak tetap, Simpanan ( tabungan

koperasi dan simpanan berjangka) Cara perhitungan nilai kredit dari

likuiditas dilakukan sebagai berikut :

LDR=

Diterima

Dana

Diberikan

Pinjaman

x 100%

Bobot untuk penilaian rasio ini maksimal adalah 10

Tabel 2.11 Penggolongan Tingkat kesehatan USP aspek likuiditas

Kreteria

Rasio

Sehat

Tidak sehat

< 90%

≥ 90%

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

 

 

Page 38

26

Ada beberapa syarat yang dikeluarkan oleh DepKop dalam menentukan

permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas dan likuiditas

yang sehat adalah:

Tabel 2.12 Indikator Penilaian Tingkat kesehatan USP

No Aspek yang

dinilai

komponen

skor

predikat

1 Permodalan a. Rasio modal sendiri terhadap total

asset

b. Rasio modal sendiri terhadap

pinjaman diberikan yang beresiko

8,1-<10

6,6-<8,1

5,1-<6,6

0-<5,1

Sehat

Cukup sehat

Kurang sehat

Tidak sehat

2 KAP

a. Rasio volume pinjaman anggota

terhadap total volume pinjaman

diberikan

b. Rasio risiko pinjaman bermasalah

terhadap pinjaman diberikan

c. Rasio cadangan resiko terhadap resiko

pinjaman bermasalah

8,1-<10

6,6-<8,1

5,1-<6,6

0-<5,1

Sehat

Cukup sehat

Kurang sehat

Tidak sehat

3 Manajemen a. permodalan

b. aktiva

c. pengelolaan

d. rentabilitas

e. likuiditas

4,05-<5

3,3-<4,05

2,55-<3,3

0-<2,55

Sehat

Cukup sehat

Kurang sehat

Tidak sehat

4 Rentabilitas a. rasio SHU sebelum pajak terhadap

pendapatan operasional

b. rasio SHU sebelum pajak terhadap

total asset

c. rasio beban operasional terhadap

pendapatan operasional

4,05-<5

3,3-<4,05

2,55-<3,3

0-<2,55

Sehat

Cukup sehat

Kurang sehat

Tidak sehat

5 Likuiditas

Rasio pinjaman yang diberikan

terhadap dana yang diterima

10

0

Sehat

Tidak sehat

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

2. Kerangka Pemikiran

Kesehatan suatu USP merupakan kepentingan semua pihak yang

terkait baik pengelola (pengurus), anggota, maupun MenKop dan

pengusaha kecil menengah sebagai badan pengawas koperasi. Masyarakat

pengguna jasa USP biasanya lebih banyak melihat dari sisi seberapa besar

SHU yang diperoleh periode tertentu kemudian membandingkan dengan

 

 

Page 39

27

periode sebelumnya tanpa memperhatikan tingkat kesehatan USP pada

saat itu. Untuk itu digunakan melindungi kepentingan anggotanya dari

kemungkinan terjadinya kerugian sebagai akibat kesalahan prediksi tingkat

kesehatan USP maka badan MenKop dan pengusaha kecil menengah

mengeluarkan surat keputusan tentang tata cara penilaian KSP/USP.

Dalam memudahkan menyusun tingkat kesehatan USP pada KUD

se-Kabupaten Kendal diperlukan suatu informasi seperti laporan keuangan

dalam bentuk Rapat Anggota Tahunan ( RAT ) yang terdiri dari

perhitungan laba / rugi USP, Neraca USP dan kebijakan manajement

dalam mengelola USP. Hal inilah yang menjadi untuk mengetahui dan

menganalisis keadaan kondisi USPnya.

Faktor yang dipergunakan dalam tingkat kesehatan USP tersebut

adalah meliputi faktor permodalan, kualitas aktiva produktif , manajemen,

rentabilitas, dan likuiditas. Penilaian tingkat kesehatan ini didasarkan pada

ketentuan perhitungan rasio atas berbagai aspek yang telah ditentukan oleh

surat keputusan dari MenKop dan pengusaha kecil menengah yang telah di

sempurnakan. Rasio yang telah diperoleh dari hasil penilaian faktor dan

komponen tersebut selanjutnya diberi nilai kredit 0 sampai 100. Nilai

kredit yang telah diperoleh dari hasil kualifikasi digunakan untuk

menentukan predikat kesehatan dari USP yakni meliputi sehat, cukup

sehat, kurang sehat, dan tidak sehat. Kerangka pikir di atas dapat

digambarkan sebagai berikutnya :

 

 

Page 40

28

Gambar 1. Kerangka berfikir

Predikat Tingkat Kesehatan

KUD (Unit Simpan Pinjam) di

Kabupaten Kendal

Kualitas aktiva

produktif

Surat Keputusan Menteri

Koperasi, Pengusaha Kecil

Menengah No.

194/KEP/M/IX/1998.

Permodalan

Tingkat Kesehatan USP

Menejemen

Rentabilitas

Likuiditas

 

 

Page 41

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi status. Penelitian evaluasi

merupakan suatu proses yang dilakukan dalam rangka menentukan kebijakan

terlebih dahulu mempertimbangkan nilai-nilai positif dan keuntungan suatu

progam, serta mempertimbangkan proses serta teknik yang digunakan untuk

melakukan penilaian.

Penelitian evaluasi status dilakukan bukan untuk menguji hipotesis seperti

halnya penelitian pendidikan. Selain itu lingkupnya lebih tebatas dan ditunjukan

dalam pernyataan kualitatif. Dengan demikian, penelitian evaluasi selalu

menyatakan tolok ukur dengan tegas. Tolok ukur tersebut dituliskan segera

setelah peneliti menuliskan butir-butir petanyaan agar setelah data tekumpul dapat

segera disejajarkan dengan tolak ukur yang tersedia untuk dibandingkan.

Data yang dikumpulkan melalui penelitian evaluasi akan sangat membantu

para pengambil keputusan karena data tersebut dikumpulkan melalui prosedur

ilmiah sehingga dapat dikatakan handal (Arikunto, 1990: 307). Prosedur atau

metode ilmiah dalam penelitian ini meliputi :

3.1 Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 1998:1150).

Sesuai dengan judul yang diambil maka yang menjadi populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh KUD Se-Kabupaten Kendal yang berjumlah 19

KUD.

29

 

 

Page 42

30

3.2 Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling

yaitu pengambilan sampel yang berdasarkan pertimbangan subyektif

penelitian yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Sampel yang diambil

untuk penelitian ini adalah USP (KUD) se-Kabupaten Kendal selama tahun

2004-2005.Adapun kriteria sampel yang termasuk dalam kategori penelitian

ini adalah:

a. Telah berbadan hukum

b. Melakukan pembukuan minimal 2 tahun berturut-turut

c. Memiliki modal diatas 15 juta untuk koperasi primer dan 50 juta untuk

koperasi sekunder.

Berdasarkan kriteria diatas, maka jumlah sampel penelitian ini sebanyak

11 USP (KUD) se-Kabupaten Kendal.

3.3 Variabel Dan Sub variabel

Dalam rangka mencapai tujuan penelitian, maka digunakan variabel

penelitian. Variabel penelitian dimaksud disini adalah objek penelitian atau

apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto,1998:236). Dalam

penelitian ini yang menjadi variabel penelitian adalah tingkat kesehatan Unit

Simpan Pinjam tahun 2004. Sedangkan sub variabel dalam penelitian ini

adalah aspek-aspek dari penilaian tingkat kesehatan yang meliputi :

1. Permodalan

Pada dasarnya modal koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal

pinjam. Modal Unit Simpan Pinjam berupa modal tetap dan modal tidak

 

 

Page 43

31

tetap. Modal tetap (modal tetap) dimaksudkan adalah meliputi modal yang

disetorkan pada awal pendiri, modal tambah dari koperasi yang

bersangkutan, dan cadangan yang disisihkan dari keuntungan koperasi.

Modal sendiri meliputi: modal disetor, modal tetap tambahan, cadangan.

Modal tidak tetap dapat diperoleh Unit Simpan Pinjam melalui

koperasinya sebagian simpanan yang berasal dari anggota, koperasi

lainnya dan atau anggotanya, bank dan lembaga keuangan lainnya,

penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya, dan sumber lain yang sah (PP

No. 9 tahun 1995). Dalam aspek permodal terdapat 2 rasio, indikator

penilaian komponen yang dinilai meliputi:

a. Rasio modal sendiri terhadap total asset

Rasio permodalan 1 =

Asset

Total

Sendiri

Modal

x100%

Rasio permodalan 1 dinyatakan sehat jika rasio yang diperoleh

minimum sebesar 16,2%.

b. Rasio modal sendiri terhadap pinjaman diberikan yang beresikoRasio

Permodalan 2 =

Beresiko

Yang

Pinjaman

Sendiri

Modal

x100%

Rasio permodalan 2 dinyatakan sehat jika rasio yang diperoleh

minimum sebesar 81%.

2. Kualitas aktiva Produktif

Aktiva produktif adalah kekayaan koperasi yang mendatangkan

penghasilan bagi koperasi yang bersangkutan. Ada 4 (empat) macam

aktiva produktif (earning asset) yaitu kredit yang diberikan, surat-surat

 

 

Page 44

32

berharga, penempatan dana pada lembaga / perusahaan lain, dan

penyertaan (Sinungan, 1993:1995). Keempat jenis aktiva tersebut diatas

mengandung risiko. Oleh karena itu pengamatan dan analisis tentang

bagaimana kualitas aktiva produktif harus dilakukan secara terus menerus.

Kemungkinan dikembalikannya kredit yang diberikan harus dipantau

melalui penilaian kolektabilitasnya, demikian juga terhadap jenis

penanaman aktiva produktif lainnya. Dalam penilaian terhadap kualitas

aktiva produktif pada USP digunakan 3 rasio, dengan indikator sebagai

berikut :

a. Rasio volume pinjaman kepada anggota terhadap total volume

pinjaman diberikan

Rasio KAP 1 =

Diberikan

Yang

Pinjaman

Volume

Total

Anggota

Pada

Pinjaman

Volume

x100%

Rasio KAP 1 dinyatakan sehat jika rasio yang diperoleh minimum

sebesar 60%.

b. Rasio resiko pinjaman bermasalah terhadap pinjaman yang diberikan

Rasio KAP 2 =

Diberikan

Yang

Pinjaman

Bermasalah

Pinjaman

siko

Re

x100%

Rasio KAP 2 dinyatakan sehat jika rasio yang diperoleh minimum

sebesar 9,5%.

c. Rasio cadangan resiko terhadap resiko pinjaman bermasalah

Rasio KAP 3 =

Bermasalah

Pinjaman

Risiko

Risiko

Cadangan

x 100%

 

 

Page 45

33

Rasio KAP 3 dinyatakan sehat jika rasio yang diperoleh minimum

sebesar 81%.

3. Manajemen

Manajemen unit simpan pinjam terdiri dari 2 komponen manajemen

umum dan manajemen resiko. Manajemen umum terdiri dari strategi,

struktur, sistem dan kepemimpinan. Manajemen resiko terdiri dari resiko

likuiditas, resiko kredit dan resiko operasional yang terdiri atas resiko

hukum dan resiko pemilik / pengurus. Indikator pada penilaian manajemen

umum dan resiko sebagai berikut :

a. Manajemen umum dinyatakan sehat jika nilai positif peryataan yang

diperoleh minimum sebesar 13.

b. Manajemen resiko dinyatakan sehat jika nilai positif peryataan yang

diperoleh minimum sebesar 9.

4. Rentabilitas

Rentabilitas adalah kemampuan koperasi untuk memperoleh sisa

hasil usaha. Untuk menilai rentabilitas pada Unit Simpan Pinjam

digunakan 3 rasio dengan indikator sebagai berikut :

a. Rasio SHU sebelum dikenakan pajak terhadap pendapatan operasional

Rasio Rentabilitas 1=

l

Operasiona

Pendapa

Pajak

Sebelum

SHU

tan

x 100%

Rasio Rentabilitas 1 dinyatakan sehat jika rasio yang diperoleh

minimum sebesar 4,05%.

b. Rasio SHU sebelum dikenakan pajak terhadap total asset

 

 

Page 46

34

ROA=

Asset

Total

Pajak

Sebelum

SHU

x 100%

Rasio Rentabilitas 2 (ROA) dinyatakan sehat jika rasio yang diperoleh

minimum sebesar 8,1%.

c. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional

BOPO=

l

Operasiona

Pendapa

l

Operasiona

Beban

tan

x 100%

Rasio Rentabilitas 3 (BOPO) dinyatakan sehat jika rasio yang

diperoleh minimum sebesar 91,9%.

5. Likuiditas

Dalam hal ini adalah kemampuan koperasi untuk memenuhi

kewajiban jangka pendek. Jumlah alat-alat pembayaran (alat-alat likuid)

yang dimiliki suatu perusahaan pada suatu saat tertentu merupakan

kekuatan membayar dari perusahaan yang berasangkutan. Pada penilaian

likuiditas USP digunakan rasio LDR, dengan indikator :

LDR=

Diterima

Dana

Diberikan

Pinjaman

x 100%

Rasio likuiditas dinyatakan sehat jika rasio yang diperoleh maksimum

sebesar 90%.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Dalam rangka memperoleh data yang diperlukan, maka metode

pengumpulkan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau

variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,

 

 

Page 47

35

prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya ( Arikunto, 1998

:236)

Metode dokumentasi ini dengan cara mengumpulkan data laporan

keuangan dari tahun 2003-2005 KUD Se-Kabupaten Kendal yang

digunakan untuk mengetahui aspek permodalan, kualitas aktiva produktif,

rentabilitas dan likuiditas.

2. Metode kuesioner atau angket

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan secara tetulis guna

memperoleh informasi dari responden, dalam hal ini adalah pengurus

koperasi. Metode ini dipakai peneliti untuk mengetahui aspek manajemen

pada KUD Se-Kabupaten Kendal.

3. Metode wawancara Mendalam ( in depth interview)

Metode ini digunakan untuk melengkapi data yang telah ada,

dimana metode wawancara dilakukan guna mendapat data yang memiliki

kedalaman dan dapat dilakukan berkali-kali sesuai dengan keperluan

peneliti tentang kejelasan masalah yang dijelajahi (Milles dalam H.B

Sutopo,1988:24). Masalah disini yang akan dibahas adalah faktor-faktor

yang berpengaruh terhadap kesehatan koperasi Unit Simpan Pinjam.

3.5 Metode Analisis Data

Penelitian evaluasi bertujuan untuk menilai sejauh mana variabel yang

diteliti telah sesuai dengan tolak ukur yang sudah ditentukan. Dengan

demikian , peneliti melakukan pengukuran dan penilaian. Pengukuran

merupakan pekerjaan yang berkaitan dengan angka dan bersifat kuantitatif,

sedangkan penilaian merupakan pekerjaan yang bersifat kualitatif. Teknik

 

 

Page 48

36

analisis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah Teknik Deskriptif Yang

Bersifat Eksploratif (kuantitatif dan kualitatif )

a. Analisis deskriptif

Penelitian ini yang bersifat eksploratif bertujuan untuk mengambarkan

keadaan atau status fenomena (Arikunto,1997:245). Dalam hal ini peneliti

mengukur kondisi variabel yang diukur dibandingkan dengan kondisi yang

diharapkan dan ukuranya adalah persentase. Analisis data yang mengunakan

teknik disriptif kualitatif memanfatkan persentase hanya merupakan langkah

awal saja dari keseluruhan proses analisis (Arikunto,1990:352). Persentase

yang dinyatakan dalam bilangan merupakan ukuran yang bersifat kuantitatif.

b. Analisis kuantitatif

Analisis ini digunakan untuk menilai berbagai aspek dan komponen

berdasarkan laporan keuangan dengan cara menghitung 9 komponen pada 4

aspek dari bentuk rasio sampai menjadi skor sebagai berikut :

1. Penilaian Permodalan

a. Untuk memperoleh rasio antara modal sendiri terhadap total asset ,

ditetapkan sebagai berikut:

Rasio permodalan 1 =

Asset

Total

Sendiri

Modal

x100%

hasil rasio tersebut ditetapkan sebagai berikut:

Untuk rasio permodalan lebih kecil atau sama dengan 0, diberikan

nilai kredit 0.

Untuk setiap kenaikan rasio modal 1% mulai dari 0%,nilai kredit

ditambah 5 dengan maksimum nilai 100.

 

 

Page 49

37

NK=

1,0

1

modalan

per

rasio

+5 (maksimal 100)

Skor = Nk X bobot

Tabel 3.1 Perhitungan Nilai Kredit dan Skor Aspek Permodalan 1

Rasio Permodalan 1

(%)

Nilai kredit

(NK)

Bobot

(%)

Skor

(NK X Bobot)

0

0

10

0

5

25

10

2.5

10

50

10

5

15

75

10

7.5

20

100

10

10

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

b. Untuk memperoleh rasio modal sendiri terhadap pinjaman diberikan

yang beresiko, ditetapkan sebagai berikut :

Rasio Permodalan 2 =

Beresiko

Yang

Pinjaman

Sendiri

Modal

x100%

Hasil rasio tersebut ditetapkan sebagai berikut :

Untuk rasio permodalan lebih kecil atau sama dengan 0, diberikan

nilai kredit 0.

Untuk setiap kenaikan rasio modal 1% mulai dari 0%,nilai kredit

ditambah 1 dengan maksimum nilai 100.

Nilai kredit dikalikan bobot sebesar 10% diperoleh skor permodalan.

NK=

1,0

2

modalan

per

rasio

+1 (maksimal 100)

Skor = Nk X bobot

 

 

Page 50

38

Tabel 3.2 Perhitungan Nilai Kredit dan Skor Aspek Permodalan 2

Rasio Permodalan 2

(%)

nilai

kredit

Bobot

(%)

Skor

( NK X Bobot)

0

0

10

0

10

10

10

1

20

20

10

2

30

30

10

3

40

40

10

4

50

50

10

5

60

60

10

6

70

70

10

7

80

80

10

8

90

90

10

9

100

100

10

10

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

2. Penilaian Kualitas Aktiva Produktif

a. Untuk mengukur rasio antara volume pinjaman kepada anggota

terhadap total volume pinjaman diberikan , ditetapkan sebagai

berikut:

Rasio KAP 1 =

Diberikan

Yang

Pinjaman

Volume

Total

Anggota

Pada

Pinjaman

Volume

x100%

Hasil rasio tersebut ditetapkan sebagai berikut:

Untuk rasio sama dengan atau lebih besar 60% diberikan nilai kredit

100.

Untuk rasio lebih kecil 60% diberikan nilai kredit 0.

Nilai kredit dikalikan 10% diperoleh skor

NK=

1,0

1

KAP

Rasio

+5 (maksimal 100)

Skor = Nk X bobot

Tabel 3.3 Perhitungan Nilai Kredit dan Skor Aspek Kualitas Aktiva

Produktif 1

Rasio KAP 1 (%) Nilai Kredit Bobot (%)

Skor (NK X Bobot)

≥ 60

100

10

10

< 60

0

10

0

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

 

 

Page 51

39

b. Untuk memperoleh rasio antara resiko pinjaman bermasalah terhadap

pinjaman yang diberikan ,ditetapkan sebagai berikut:

Rasio KAP 2 =

Diberikan

Yang

Pinjaman

Bermasalah

Pinjaman

siko

Re

x100%

Hasil rasio tersebut ditetapkan sebagai berikut:

Untuk rasio 50% atau lebih diberikan nilai kredit 0.

Untuk penurunan rasio 1% nilai kredit ditambah 2 dengan

maksimum nilai 100.

Nilai kredit dikalikan dengan bobot 10% diperoleh skor.

NK=

1,0

2

%50

KAP

rasio

+2 (maksimal 100)

Skor = Nk X bobot

Tabel 3.4 Perhitungan Nilai Kredit dan Skor Aspek Kualitas Aktiva

Produktif 2

Rasio KAP 2

(%)

nilai kredit

Bobot

(%)

Skor

(NK X Bobot)

> 50

0

10

0

45

10

10

1

40

20

10

2

35

30

10

3

30

40

10

4

25

50

10

5

20

60

10

6

15

70

10

7

10

80

10

8

5

90

10

9

0

100

10

10

Sumber: SK MenKopUK no 194/Kep/M/IX/1998

c. Rasio cadangan resiko terhadap resiko pinjaman bermasalah dihitung

dengan cara penilaian sebagai berikut :

Rasio KAP 3 =

Bermasalah

Pinjaman

Risiko

Risiko

Cadangan

x 100%

Hasil rasio tersebut ditetapkan sebagai berikut :

 

 

Page 52

40

Untuk rasio 0% (tidak mempunyai cadangan penghapusan) diberi

nilai 0.

Untuk setiap kenaikan 1% mulai dari 0%, maka nilai kredit tersebut

ditambah 1 sampai dengan maksimum 100.

Nilai dikalikan bobot sebesar 10% diperoleh skor.

NK=

1,0

3

KAP

Rasio

+1 (maksimal 100)

Skor = Nk X bobot

 

3. Aspek Manajemen

a. Manajemen Umum terdiri dari strategi, struktur, sistem dan

kepemimpinan. Berikut daftar bobot penilaian :

 

 

b. Manajemen resiko meliputi resiko likuiditas, resiko kredit, resiko

operasional yang terdiri atas resiko hukum dan resiko pemilik.

Berikut daftar bobot penilaian :

 

4. Penilaian Rentabilitas

Penilaian kuantitas terhadap rentabilitas didasarkan pada 3 (tiga)

rasio yaitu rasio SHU sebelum pajak terhadap pendapatan operasional,

SHU sebelum dikenakan pajak tehadap total asset tersebut, dan rasio

beban operasional terhadap pendapatan operasional.

 

a. Cara perhitungan rasio SHU sebelum dikenakan pajak terhadap

pendapatan operasional, ditetapkan sebagai berikut :

Rasio Rentabilitas 1=

l

Operasiona

Pendapa

Pajak

Sebelum

SHU

tan

x 100%

Hasil rasio tersebut ditetapkan sebagai berikut :

Untuk rasio 0% atau negatif diberi nilai kredit 0.

Untuk setiap kenaikan rasio 1% mulai dari 0% nilai kredit ditambah

20 dengan maksimum 100.

Nilai kredit dikalikan dengan bobot sebesar 5% diperoleh skor.

NK=

1,0

1s

Rntabilita

Rasio

+1 (maksimal 100)

Skor = Nk X bobot

 

b. Perhitungan nilai rasio SHU sebelum dikenakan pajak terhadap total

asset, ditetapkan sebagai berikut :

ROA=

Asset

Total

Pajak

Sebelum

SHU

x 100%

Hasil rasio tersebut ditetapkan sebagai berikut :

Untuk rasio 0% atau negatif diberi nilai kredit 0.

Untuk setiap kenaikan rasio 1% mulai dari 0% nilai kredit ditambah

10 dengan maksimum 100.

Nilai kredit dikalikan dengan bobot sebesar 5% diperoleh skor.

NK=

05,0

ROA

Rasio

+10 (maksimal 100)

Skor = Nk X bobot

 

c. Perhitungan nilai kredit dari rasio beban operasional terhadap

pendapatan operasional dalam periode satu tahun buku, ditetapkan

sebagai berikut :

BOPO=

l

Operasiona

Pendapa

l

Operasiona

Beban

tan

x 100%

Hasil rasio tersebut ditetapkan sebagai beikut :

Untuk rasio100% atau lebih diberi nilai kredit 0.

Untuk setiap penurunan rasio 1% mulai dari 100% nilai kredit

ditambah 10 dengan maksimum 100.

Nilai kredit dikalikan dengan bobot sebesar 5% diperoleh skor.

NK=

05,0

100 RasioBOPO

+ 10 (maksimal 100)

Skor = Nk X bobot

 

5. Penilaian Likuiditas

Cara perhitungan nilai kredit dari likuiditas dilakukan sebagai

berikut :

 

LDR=

Diterima

Dana

Diberikan

Pinjaman

x 100%

Hasil rasio tersebut ditetapkan sebagai berikut :

Untuk rasio 90% atau lebih, diberi nilai kredit 0.

Untuk rasio dibawah 90% diberi nilai kredit 100.

Nilai kredit dikalikan bobot 10% diperoleh skor likuiditas.

 

Selain penilaian terhadap 5 aspek masih perlu dilakukan penilaian yang

dikuantitatifkan. Hal ini perlu dilakukan agar penilaian menjadi sempurna,

penilaian ini diantaranya:

 

1. Koreksi Penilaian

Faktor-faktor yang dapat menurunkan satu tingkat kesehatan KSP dan

USP antara lain :

a. Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan intern maupun ekstern

b. Salah pembukuan atau tertunda pembukuan

c. Pemberian pinjaman yang tidak sesuai dengan prosedur

d. Tidak menyampaikan laporan tahunan atau laporan berkala 3 kali

berturut-turut

e. Mempunyai volume pinjaman diatas Rp 1.000.000.000,- (satu milyar)

tetapi tidak diaudit oleh akuntan publik

f. Manajer USP belum diberikan wewenang penuh untuk mengelola

usaha

 

2. Kesalahan Fatal

Faktor-faktor yang dapat menurunkan tingkat kesehatan KSP atau USP

langsung menjadi tidak sehat, antara lain :

a. Adanya perselisih intern yang diperkirakan akan menimbulkan

kesulitan dalam koperasi yang bersangkutan

b. Adanya campur tangan pihak di luar koperasi atau kerjasama yang

tidak wajar sehingga prinsip koperasi tidak dilaksanakan dengan baik

c. Rekayasa pembukuan atau window dressing dalam pembukuan

sehingga mengakibatkan penilaian yang keliru terhadap koperasi

d. Melakukan kegiatan usaha koperasi tanpa membukukan dalam

koperasi.

 

1. Deskriptif sampel penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Kabupaten Kendal terdapat

19 KUD. Dari 19 KUD terdapat 13 KUD yang masih melakukan kegiatan

Unit Simpan Pinjam (USP) namun dari 13 USP tersebut hanya 11 USP yang

masuk dalam kriteria sempel penelitian ( telah berbadan hukum, telah

beroperasi dan melakukan pembukuan selama 2 tahun berturut-turut,

memiliki modal sendiri lebih dari 15 juta). Sampel tersebut sebagai berikut :

 

2. Deskriptif Variabel

Pada hasil penilaian tingkat kesehatan dibagi dalam sub variabel dan

variabel. Pada sub variabel penelitian terdapat lima komponen, dalam

komponen tersebut dinyatakan secara kuantitatif yaitu dengan skor 1 sampai

dengan 10, komponen itu diantaranya yaitu permodalan (Permodalan sendiri

terhadap total asset dan Rasio modal sendiri terhadap pinjaman diberikan yang

beresiko), kualitas aktiva produktif (volume pinjaman diberikan kepada

anggota terhadap total volume pinjaman yang diberikan, Resiko pinjaman

bermasalah terhadap pinjaman yang diberikan, Cadangan resiko dengan

pinjaman bermasalah), manajemen (aspek manajemen permodalan, aspek

manajemen KAP, aspek manajemen umum, aspek manajemen rentabilitas,

aspek manajemen likuiditas), rentabilitas (rasio SHU sebelum pajak terhadap

pendapatan operasional, rasio SHU sebelum pajak terhadap total asset, rasio

beban operasional terhadap pendapatan operasional), dan likuiditas.

Sedangkan variabel penelitiannya adalah tingkat kesehatan USP se-kabupaten

kendal.

2.1 Permodalan

Permodalan USP berasal dari modal sendiri atau modal tetap USP

terdiri dari modal disetor pada awal pendirian, simpanan wajib khusus dan

cadangan, baik cadangan umum maupun cadangan untuk tujuan resiko.

Penilaian permodalan dilakukan dengan dua rasio yaitu pertama rasio

antara modal sendiri terhadap total asset, kedua rasio modal sendiri terhadap

pinjaman diberikan yang beresiko.

a. Skor rasio permodalan sendiri terhadap total asset

skor rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan modal sendiri

dalam pembiayaan total asset. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada

KUD sampel di Kabupaten Kendal diperoleh skor rasio permodalan sendiri

terhadap total asset seperti tampak pada tabel berikut :

 

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor tingkat

kesehatan tertinggi untuk skor rasio modal sendiri terhadap total asset sebesar

10 (sehat). Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) tersebut memiliki

kemampuan modal sendiri yang dapat mendukung pendanaan terhadap total

asset baik.

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

berada pada predikat sehat dengan skor 10 dan standar deviasi sebesar 0. Hal

ini menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di Kabupaten Kendal

berada pada predikat sehat. Karena melebihi dari standar yang telah

ditetapkan yakni sebesar 8,1. Hal ini mengandung arti bahwa (KUD) USP di

Kabupaten Kendal memiliki kemampuan modal sendiri yang dapat

mendukung pendanaan terhadap total asset.

 

b. Skor rasio modal sendiri terhadap pinjaman diberikan yang beresiko

Perhitungan komponen kedua dari aspek permodalan yaitu rasio modal

sendiri terhadap pinjaman diberikan yang beresiko, dapat dilihat pada tabel

berikut:

 

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor

tingkat kesehatan tertinggi untuk skor rasio modal sendiri terhadap total asset

sebesar 10 (sehat). Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) tersebut memiliki

kemampuan modal sendiri yang baik untuk menutupi resiko atas pemberian

pinjaman yang tidak didukung dengan agunan yang memadai. Sedangkan

skor terendah pada KUD (USP) Sri Sadono memiliki skor sebesar 5.65

(kurang sehat). Hal ini menunjukan bahwa dari pinjaman KUD (USP) Sri

sadono kurang memiliki kemampuan modal sendiri untuk menutupi resiko

atas pemberian pinjaman yang tidak didukung dengan agunan yang memadai.

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

berada pada predikat sehat dengan skor 9.26, standar deviasi sebesar 1.03.

Hal ini menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di Kabupaten

Kendal berada pada predikat sehat. Karena melebihi standar yang telah

ditetapkan yakni sebesar 8,1. Hal ini mengandung arti bahwa (KUD) USP di

Kabupaten Kendal memiliki kemampuan modal sendiri untuk menutupi

resiko atas pemberian pinjaman yang tidak didukung dengan agunan yang

memadai.

 

2.2 Kualitas Aktiva Produktif

Penilaian aktiva produktif dilakukan dengan menggunakan tiga rasio,

yang pertama rasio antara volume pinjaman pada anggota terhadap total

volume pinjaman yang diberikan. Hasil perhitungan untuk memperoleh skor

tampak pada tabel berikut :

a. skor rasio volume pinjaman diberikan kepada anggota terhadap total

volume pinjaman yang diberikan

 

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor tingkat

kesehatan tertinggi untuk skor rasio modal sendiri terhadap total asset sebesar

10 (sehat). Hal ini menunjukan bahwa KUD dalam memberikan pinjaman,

lebih dari 60% diberikan kepada anggotanya.Sedangkan skor terendah pada

KUD (USP) Dewi Shinta memiliki skor sebesar 5 (tidak sehat). Hal ini

menunjukan bahwa KUD Intan dan Darma Tani dalam memberikan

pinjaman, kurang dari 60% diberikan kepada anggotanya sedangkan sisanya

diberikan pada bukan anggota.

Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa rata-rata tingkat kesehatan

untuk skor rasio volume pinjaman diberikan kepada anggota terhadap total

volume pinjaman yang diberikan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

adalah sebesar 9,09 dengan standar deviasi sebesar 2,02. Hal ini menunjukan

bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD (USP)di Kabupaten Kendal berada

pada predikat sehat. Karena melebihi standar yang telah ditetapkan yakni

sebesar 8,1. Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) dalam memberikan

pinjaman, lebih dari 60% diberikan kepada anggotanya.

b. Resiko pinjaman bermasalah terhadap pinjaman yang diberikan

Perhitungan untuk komponen kedua penilaian terhadap rasio ini

dimaksudkan untuk mengukur besranya resiko pinjaman bermasalah

dibandingkan dengan pinjaman yang diberikan. Semakin kecil rasio maka

semakin tinggi skor yang diperoleh.

 

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor tingkat

kesehatan tertinggi untuk skor rasio pinjaman bermasalah terhadap pinjaman

yang diberikan terjadi pada KUD (USP) dengan skor 8,1 (sehat). Hal ini

menunjukan bahwa pinjaman yang diberikan pada anggotanya merupakan

pinjaman lancar. Sedangkan skor terendah sebesar 7,56 (cukup sehat). Hal

ini menunjukan bahwa KUD (USP) tersebut bahwa pinjaman yang diberikan

sebesar kurang dari 30% pada anggotanya merupakan pinjaman bermasalah.

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

memiliki rata-rata skor 8,44, dengan standar deviasi sebesar 0,56. Hal ini

menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di Kabupaten Kendal

berada pada predikat sehat. Karena melebihi standar yang telah ditetapkan

yakni sebesar 8,1. Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) tersebut bahwa

pinjaman yang diberikan sebesar 25% pada anggotanya merupakan pinjaman

bermasalah.

Dari 11 KUD yang diambil sebagai sampel terdapat 9 (81.8%) KUD

berada pada predikat sehat, 2 (18.2%) berada pada predikat cukup sehat.

c. Skor rasio Cadangan resiko dengan pinjaman bermasalah

Skor rasio ini dimaksudkan untuk mengukur besarnya cadangan resiko

dibandingkan dengan resiko pinjaman bermasalah.

 

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor tingkat

kesehatan tertinggi untuk skor rasio cadangan resiko dengan resiko pinjaman

bermasalah sebesar 10 (sehat). Hal ini menujukan bahwa KUD (USP)

memiliki cadangan kerugian lebih dari 100 % dari resiko pinjaman

bermasalah. Sedangkan skor terendah pada KUD Intan memiliki skor sebesar

1.62 (tidak sehat). Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) Darma Tani

memiliki cadangan kerugian kurang dari 20 % dari pinjaman bermasalah.

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

memiliki skor sebesar 7,49, standar deviasi sebesar 2,94. Hal ini menunjukan

bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di Kabupaten Kendal berada pada

predikat cukup sehat. Karena kurang dari standar yang telah ditetapkan

yakni sebesar 8,1. Hal ini mengandung arti bahwa (KUD) USP di Kabupaten

Kendal memiliki memiliki cadangan kerugian kurang dari 40 % pinjaman

bermasalah.

Dari 11 KUD yang diambil sebagai sampel terdapat 6 (54.6%) KUD

berada pada predikat sehat, 2 (18.2%) berada pada predikat kurang sehat dan

sisanya 3 (27,3%) berada pada predikat tidak sehat.

 

2.3 Aspek Manajemen

Perhitungan nilai kredit aspek manajemen USP diperoleh dari hasil

kuantifikasi 25 pertanyaan mengenai komponen manajemen. Aspek–aspek

dalam manajemen meliputi 5 aspek antara lain aspek permodalan, kualitas

aktiva produktif (KAP), manajemen umum, rentabilitas, dan likuiditas.

Penilaian 5 aspek sebagai berikut:

a. Aspek manajemen permodalan

Pada tabel diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor tingkat

kesehatan tertinggi untuk skor pada aspek manajemen permodalan sebesar 5

(sehat). Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) tersebut memiliki

kemampuan yang baik dalam mengelola permodalan. Sedangkan skor

terendah pada KUD Intan memiliki skor sebesar 2.5 (tidak sehat). Hal ini

menunjukan bahwa KUD (USP) Intan kurang memiliki kemampuan dalam

mengelola modal.

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

berada pada predikat sehat dengan skor 4.23, standar deviasi sebesar 1.13.

Hal ini menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di Kabupaten

Kendal berada pada predikat sehat. Karena melebihi standar yang telah

ditetapkan yakni sebesar 4.05. Hal ini mengandung arti bahwa (KUD) USP di

Kabupaten Kendal memiliki kemampuan yang baik dalam mengelola

permodalan.

Dari 11 KUD yang diambil sebagai sampel terdapat 6 (54.6%) KUD

berada pada predikat sehat, 3 (27.3%) berada pada predikat cukup sehat, 1

(9,1%) berada pada predikat kurang sehat dan sisanya 1 (9,1%) berada pada

predikat tidak sehat.

 

b. skor pada Aspek manajemen pada kualitas aktiva produktif

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor tingkat

kesehatan tertinggi untuk skor aspek pengelolaan aktiva terhadap total asset

sebesar 5 (sehat). Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) tersebut memiliki

kemampuan yang baik dalam mengelola aktiva. Sedangkan skor terendah

pada KUD (USP) memiliki skor sebesar 2 ( kurang sehat ). Hal ini

menunjukan bahwa KUD (USP) kurang memiliki kemampuan dalam

mengelola aktiva.

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

berada pada predikat cukup sehat dengan skor 3.45, standar deviasi sebesar

1.04. Hal ini menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di

Kabupaten Kendal berada pada predikat cukup sehat. Karena kurang dari

standar yang telah ditetapkan yakni sebesar 4.05. Hal ini mengandung arti

bahwa (KUD) USP di Kabupaten Kendal cukup memiliki kemampuan dalam

mengelola aktiva.

Dari 11 KUD yang diambil sebagai sampel terdapat 1 (9.1%) KUD

berada pada predikat sehat, 6 (54.6%) berada pada predikat cukup sehat,

1(9.1%) berada pada predikat kurang sehat sedang pada predikat tidak sehat

sebesar 3 (27.3%).

 

c. skor pada Aspek manajemen pada pengelolaan

 

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor tingkat

kesehatan tertinggi untuk skor rasio aspek pengelolaan sebesar 5 (sehat). Hal

ini menunjukan bahwa KUD (USP) tersebut memiliki kemampuan yang baik

dalam pengelolaan. Sedangkan skor terendah pada KUD (USP) memiliki skor

sebesar 1.5 ( kurang sehat ). Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) kurang

memiliki kemampuan dalam pengelolaan.

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

memiliki rata-rata skor 3.68, standar deviasi sebesar 1.03. Hal ini

menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di Kabupaten Kendal

berada pada predikat cukup sehat. Karena kurang dari standar yang telah

ditetapkan yakni sebesar 4.05. Hal ini mengandung arti bahwa (KUD) USP di

Kabupaten Kendal cukup memiliki kemampuan dalam pengelola.

Dari 11 KUD yang diambil sebagai sampel terdapat 2 (18.2%) KUD

berada pada predikat sehat, 6 (54.6%) KUD berada pada predikat cukup

sehat, 1 (9.1%) KUD berada pada predikat kurang sehat dan 2 (18,2%) KUD

berada pada predikat tidak sehat.

 

d. skor rasio Aspek manajemen pada rentabilitas

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor tingkat

kesehatan tertinggi untuk skor aspek manajemen rentabilitas sebesar 5

(sehat). Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) tersebut memiliki

kemampuan yang baik dalam menghasilkan laba. Sedangkan skor terendah

pada KUD (USP) memiliki skor sebesar 3 ( cukup sehat ). Hal ini

menunjukan bahwa KUD (USP) cukup memiliki kemampuan dalam

menghasilkan laba bagi USP.

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

memiliki rata-rata skor 4.33, standar deviasi sebesar 0.73. Hal ini

menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di Kabupaten Kendal

berada pada predikat sehat. Karena melebihi standar yang telah ditetapkan

yakni sebesar 4.05. Hal ini mengandung arti bahwa (KUD) USP di

Kabupaten Kendal memiliki kemampuan yang baik dalam menghasilkan laba

bagi USP.

Dari 11 KUD yang diambil sebagai sampel terdapat 6 (54.6%) KUD

berada pada predikat sehat, 4 (36.3%) KUD berada pada predikat cukup

sehat, 1 (9.1%) KUD berada pada predikat kurang.

 

e. Aspek manajemen likuiditas

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor tingkat

kesehatan tertinggi untuk skor aspek manajemen likuiditas sebesar 4 (sehat).

Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) tersebut memiliki kemampuan

cukup dalam manajjemen likuiditas. Sedangkan skor terendah pada KUD

Darma Tani memiliki skor sebesar 1 (tidak sehat). Hal ini menunjukan

bahwa KUD (USP) Darma Tani kurang memiliki kemampuan dalam

menjaga likuiditas USP.

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

berada pada predikat sehat dengan skor 2.61, standar deviasi sebesar 1.11.

Hal ini menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di Kabupaten

Kendal berada pada predikat kurang sehat. Karena kurang dari standar yang

telah ditetapkan yakni sebesar 4.05. Hal ini mengandung arti bahwa (KUD)

USP di Kabupaten Kendal kurang memiliki kemampuan dalam menjaga

likuiditas USP.

Dari 11 KUD yang diambil sebagai sampel terdapat 3 (27.3%) KUD

berada pada predikat cukup sehat, 3 (27.3%) KUD berada pada predikat

kurang sehat dan 5 (55,4%) KUD berada pada predikat tidak sehat.

2.4 Aspek Rentabilitas

Rentabilitas menunjukan kemampuan USP memperoleh SHU dari

pengelolaan kekayaannya. Dalam penilaian kesehatan aspek rentabilitas

diberikan bobot yang lebih rendah dibanding aspek manajemen, permodalan

dan aktiva produktif. Hal ini dikarenakan koperasi tidak mengejar

keuntungan.

Dalam penilaian tingkat kesehatan untuk aspek rentabilitas digunakan

tiga rasio yaitu rasio SHU sebelum pajak terhadap pendapatan operasional,

rasio SHU sebelum pajak terhadap total asset, rasio beban operasional

terhadap pendapatan operasional.

a. SHU sebelum pajak terhadap pendapatan operasional

 

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor tingkat

kesehatan tertinggi untuk skor rasio SHU sebelum pajak terhadap pendapatan

operasional sebesar 5 (sehat). Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP)

tersebut memiliki kemampuan yang baik dalam memperoleh SHU

disbanding pendapatan operasional. Sedangkan skor terendah pada KUD

(USP) Sri Sadono memiliki skor sebesar 2.20 (tidak sehat). Hal ini

menunjukan bahwa KUD (USP) Sri Sadono tidak memiliki kemampuan

dalam memperoleh SHU.

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

berada pada predikat sehat dengan skor 4.36, standar deviasi sebesar 0.17.

Hal ini menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di Kabupaten

Kendal berada pada predikat sehat. Karena melebihi standar yang telah

ditetapkan yakni sebesar 4,05. Hal ini mengandung arti bahwa (KUD) USP di

Kabupaten Kendal memiliki kemampuan yang baik memperoleh SHU.

Dari 11 KUD yang diambil sebagai sampel terdapat 10 (90.9%) KUD

berada pada predikat sehat, 1 (9.1%) KUD berada pada predikat cukup sehat.

b. Skor pada SHU sebelum pajak terhadap total asset pada KUD sampel se

Kab. Kendal

Penilaian ini dimaksudkan untuk mengukur kemampuan USP dalam

memperoleh SHU dari total asset yang dipergunakan.

 

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor

tingkat kesehatan tertinggi untuk skor rasio SHU sebelum pajak dari total

asset sebesar 5 (sehat). Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) tersebut

memiliki kemampuan yang baik dalam memperolah SHU dari total asset

yang dipergunakan. Sedangkan skor terendah pada KUD Sri Sadono

memiliki skor sebesar 0,22 (tidak sehat). Hal ini menunjukan bahwa KUD

(USP) Sri Sadono tidak memiliki kemampuan untuk memperoleh SHU

sebelum pajak dari total asset.

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

memiliki skor rata-rata 3,10, standar deviasi sebesar 1,75. Hal ini

menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di Kabupaten Kendal

berada pada predikat kurang sehat. Karena kurang dari standar yang telah

ditetapkan yakni sebesar 4.05. Hal ini mengandung arti bahwa (KUD) USP di

Kabupaten Kendal memiliki kemampuan untuk memperoleh SHU sebelum

pajak dari total asset.

Dari 11 KUD yang diambil sebagai sampel terdapat 5 (36.4%) KUD

berada pada predikat sehat, 1 (9.1%) KUD berada pada predikat cukup sehat,

dan 4 (45,5%) KUD berada pada predikat tidak sehat.

c. Beban operasional terhadap pendapatan operasional

Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya beban atau biaya

opersional USP dibandingkan dengan pendapatan operasional pada satu tahun

buku.

 

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor

tingkat kesehatan tertinggi untuk skor rasio memiliki kemampuan dalam

menekan beban operasional sebesar 5 (sehat). Hal ini menunjukan bahwa

KUD (USP) tersebut memiliki kemampuan yang baik dalam menekan beban

operasional. Sedangkan skor terendah pada KUD Darma Tani memiliki skor

sebesar 1.35 (tidak sehat). Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) Sri

Sadono tidak memiliki kemampuan dalam menekan beban operasional

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

memiliki skor rata-rata 4.42, standar deviasi sebesar 1,19. Hal ini

menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di Kabupaten Kendal

berada pada predikat sehat. Karena melebihi standar yang telah ditetapkan

yakni sebesar 4.05. Hal ini mengandung arti bahwa (KUD) USP di

Kabupaten Kendal memiliki kemampuan dalam menekan beban operasional

Dari 11 KUD yang diambil sebagai sampel terdapat 10 (90.9%) KUD

berada pada predikat sehat, 1 (9.1%) KUD berada pada predikat tidak sehat.

 

2.5 Aspek Likuiditas

Dalam usaha simpan pinjam pemeliharaan likuditas dimaksudkan untuk

memenuhi kewajiban jangka pendek baik membayar penarikan simpanan

anggota maupun kewajiban jangka pendek lainnya. Oleh karena itu

pemeliharaan likuditas harus mendapat perhatian yang besar dari pengelola

USP untuk menjaga tingkat kepercayaannya.

Analisis penilaian aspek likuditas ini adalah dengan membandingkan

antara pinjaman yang diberikan terhadap dana yang diterima oleh USP.

Besarnya dana yang diterima oleh USP terdiri dari modal sendiri, modal

pinjaman, dan simpanan anggota.

 

Pada tabel diatas diketahui bahwa selama tahun 2004-2005 skor tingkat

kesehatan tertinggi untuk skor rasio yang diberikan terhadap dana yang diterima

sebesar 10 (sehat). Hal ini menunjukan bahwa KUD (USP) tersebut memiliki

kemampuan yang baik dalam menjaga likuiditas.

Rata-rata tingkat kesehatan pada KUD (USP) di Kabupaten Kendal

berada pada predikat sehat dengan skor 10, standar deviasi sebesar 0. Karena

melebihi dari standar yang telah ditetapkan yakni sebesar 8,1. Hal ini

mengandung arti bahwa KUD (USP) di Kabupaten Kendal memiliki

kemampuan dalam menjaga likuiditas.

Dari 11 KUD yang diambil sebagai sampel terdapat 4 (36.4%) KUD

berada pada predikat tidak sehat, dan sisanya 7 (54.6%) KUD berada pada

predikat sehat.

3. Hasil Penilaian

Nilai kredit hasil perhitungan kuantitatif terhadap lima faktor berserta

komponenya tersebut diatas dikalikan bobot penilaian masing-masing komponen

sesuai dengan ketentuan maka diperoleh skor perhitungan. Besarnya skor

perhitungan tersebut dijumlahkan sehingga diperoleh hasil penilaian faktor yang

di kuantifikasikan.

 

 

Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa rata-rata tingkat kesehatan pada

KUD di Kabupaten Kendal adalah sebesar 78.829 dengan standar deviasi sebesar

9.06. Hal ini menunjukan bahwa rata-rata tingkat kesehatan KUD di Kabupaten

Kendal berada pada predikat sehat. Karena melebihi dari standar yang telah

ditetapkan yakni sebesar 81.

Dari 11 KUD yang diambil sebagai sampel terdapat 5 (45.4.%) KUD

berada pada predikat sehat, 6 (54.6%) berada pada predikat cukup sehat.

KUD Sri Sadono memiliki skor terendah yaitu sebesar 64,65 sedangkan

skor tertinggi sebesar 90.8 pada KUD Dewi Sri. Hal ini menunjukan bahwa KUD

Dewi Sri memiliki tingkat kesehatan yang lebih baik dari 10 USP lain .

4. Faktor-faktor lain

Penilaian hasil yang dikuantifikasikan tersebut bukanlah hasil akhir dari

langkah untuk menilai tingkat kesehatan USP. Masih ada penilaian yang harus

dilakukan berupa penyesuaian terhadap hal-hal yang dapat mempengaruhi tingkat

kesehatan yang diperoleh berdasarkan skor tersebut diatas, sehingga

mencerminkan tingkat kesehatan yang sebenarnya. Berdasarkan pada lampiran

12 menunjukkan bahwa penyesuaian yang telah dilakukan tidak ada yang

mempengaruhi tingkat kesehatan hasil kuantifikasi, sehingga tidak merubah skor

dan predikat tingkat kesehatan yang telah dicapai.

 

B. PEMBAHASAN

Berdasarkan perhitungan maka naik turunnya skor tingkat kesehatan yang

diperoleh USP dipengaruhi oleh lima komponen penilaian tingkat kesehatan.

Adapun lima komponen meliputi :

 

1. PERMODALAN

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa pada komponen

permodalan pada KUD (USP) sampel se-Kabupaten Kendal pada tahun 2004

sampai dengan 2005 secara rata-rata berada dalam kategori sehat, namun

demikian skor permodalan pada tahun 2005 dinilai mengalami perubahan

negatif. Perubahan ini terjadi pada skor rasio modal sendiri terhadap

pinjaman diberikan beresiko. Sedangkan pada skor rasio modal sendiri

terhadap total asset tidak mengalami perubahan (sehat)

Pada skor rasio modal sendiri terhadap pinjaman yang diberikan

beresiko mengalami perubahan negatif. Perubahan ini disebabkan dari

pinjaman yang diberikan dari Rp 100.000,- sampai Rp 500.000,- tidak

memiliki agunan akan tetapi USP hanya meminta fotocopy KTP atau surat

tanah dengan disertai surat pengantar dari kelurahan. Hal inilah yang

menyebabkan jumlah pinjaman beresiko mengalami kenaikan. Berdasarkan

ketetapan DepKop pinjaman masih bisa diselamatkan apabila nilai agunan

sekurang-kurangnya 75% dari hutang peminjam berserta bunga. Karena

pinjaman yang diberikan USP pada hal ini tidak memiliki nilai agunan yang

cukup, maka pinjaman ini pada nantinya akan mengakibatkan jumlah

pendapatan menurun atau akan mengalami kerugian. Pada aspek ini

menunjukan bahwa USP dalam memberikan pinjaman kurang selektif atau

dengan kata lain kurang hati-hati.

Untuk mengurangi jumlah pinjaman beresiko hendaknya USP perlu

lebih mempertimbangkan resiko apabila terjadi pinjaman bermasalah,

disamping itu dalam memberikan pinjaman harus disertai dengan agunan.

Dengan agunan dan pertimbangan resiko akan menekan jumlah pinjaman

beresiko.

Skor rasio modal sendiri terhadap Total Asset pada tahun 2005 tidak

mengalami perubahan (positif), hal ini dikarenakan modal sendiri cukup

untuk mendukung aktifitas pendanan terhadap total asset.

Modal sendiri pada USP mengalami kenaikan, kenaikan ini

dikarenakan USP melakukan pemberian insetif yang menarik kepada anggota

untuk memperbesar simpanan wajib misalnya dengan meningkatkan jumlah

bagian SHU. Untuk peningkatan modal sendiri dengan pemupukan cadangan

dari SHU, cadangan resiko serta keterbukaan anggota untuk meningkatakan

simpanan wajib.

 

2. KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF

Berdasarkan kreteria DepKop skor pada (KUD) (USP) se-Kabupaten

kendal dari tahun 2004 sampai 2005 berada pada predikat sehat tetapi

mengalami penurunan skor. Hal ini disebabkan oleh 3 rasio yaitu volume

pinjaman pada anggota terhadap total volume pinjaman, resiko pinjaman

bermasalah terhadap pinjaman diberikan dan cadangan resiko terhadap resiko

pinjaman bermasalah.

Pada rasio pertama tidak mengalami perubahan skor namun berada

pada posisi positif. Pada rasio ini dikarenakan jumlah pinjaman yang

diberikan kepada anggota lebih dari 60%. Hal ini menunjukan bahwa USP

sebanyak 60% lebih dana yang tersedia pada USP diberikan pada anggotanya.

USP dalam memberikan pinjaman didasarkan akan ketersediaan dana

yang ada dalam USP hal ini dikarenakan dengan adanya dana dalam USP

yang belum tersalurkan melalui kredit akan mengurangi pendapatan dan

disatu sisi juga menambah biaya (bunga). Hal ini menjadi kendala apabila

jumlah dana yang tersedia pada USP belum terserap oleh anggotanya. Untuk

itulah hendaknya USP mewajibkan bahwa calon kreditur yang ingin

meminjam diUSP hendaknya menjadi anggota tetap USP.

Pada rasio ke dua resiko pinjaman bermasalah terhadap pinjaman

diberikan mengalami perubahan negatif. Rata–rata resiko pinjaman

bermasalah mengalami kenaikan hal ini dampak dari pinjaman yang

diberikan beresiko mengalami kenaikan yang berakibat bertambahnya resiko

pinjaman bermasalah. Disamping itu piutang yang belum tertagih menambah

jumlah resiko pinjaman bermasalah.

Untuk mengurangi jumlah resiko pinjaman bermasalah USP dapat

melakukan penagihan yang lebih ekstra dari tahun-tahun sebelumnya dengan

prosedur penagihan yang berbeda dari tahun yang lalu diharapkan dapat

mengurangi jumlah pinjaman bermasalah, hal yang dapat dilakukan USP

seperti mengingatkan pada kreditur mengenai kewajibanya kepada USP pada

saat kreditur akan melaksanakan panen, mengingatkan kreditur pada waktu

melakukan pembayaran listrik di KUD. Hal ini lebih positif dilakukan USP

karena akan lebih mudah dalam penagihan, demikian pula pada kreditur akan

mengingatkan kreditur akan kewajiban dan segera memenuhi kewajibannya.

Pada rasio ke tiga yaitu cadangan kerugian terhadap pinjaman yang

bermasalah mengalami perubahan negatif. Dana cadangan yang diangarkan

pada rapat pengurus USP terlalu kecil jika terjadi kerugian akibat dari

pinjaman bermasalah, dana cadangan tidak dapat menutupi besarnya

pinjaman bermasalah akibatnya akan menambah beban operasional USP.

Namun demikian jumlah cadangan yang terlalu besar tidak baik karena akan

mengurangi jumlah kredit yang diberikan. Untuk itu penting bagi manajer

untuk menambah jumlah dari dana cadangan yang sesuai untuk

mengantisipasi kerugian dari piutang, karena besar kecilnya dana tergantung

dari jumlah pinjaman yang diberikan USP.

Pada dasarnya nilai cadangan resiko dapat ditekan dengan menekan

resiko kredit. Hal ini dapat dilakukan dengan lebih berhati-hati dalam

pemberian kredit. Kredit yang diberikan harus kepada orang yang memegang

teguh janjinya untuk melakukan kewajibanya membayarkan kembali dana

yang dipinjam berserta bunganya. Dismping itu USP lebih tegas menetapkan

nilai agunan pada setiap jaminan, nilai jaminan harus lebih besar jika nasabah

melalikan kewajibanya maka USP tidak menangung kerugian.

 

3. MANAJEMEN

Dari hasil penelitan diketahui bahwa komponen menajemen secara

keseluruhan (5 aspek ) pada KUD (USP) se-kabupaten Kendal tahun 2004-

2005 berada pada kategori cukup sehat. Meskipun manajemen permodalan,

KAP, umum, rentabilitas dan likuiditas USP dapat dikategorikan cukup sehat,

namun pada kenyataannya nilainya jauh dari standar kesehatan DepKop

yakni sebesar 4,05.

Pada manajemen permodalan terjadi kenaikan pada modal sendiri. Hal

ini terjadi pada tingkat pertumbuhan modal sendiri yang berasal dari anggota

meningkat sebesar 10 % dari tahun lalu. Pada investasi harta tetap dan

investaris serta biaya ekspansi perkantoran dibiayai dengan modal sendiri

menunjukan nilai positif. Sedangkan pada simpanan meningkat dibawah 10%

dari tahun lalu. Hal ini berarti bahwa sub komponen permodalan USP

mengalami penurunan kualitas dikarenakan penurunan nilai SHU sehingga

mengurangi cadangan kerugian, simpanan anggota kurang dari 10%

disebabkan adanya penarikan simpanan dari anggota.

Pada sub komponen KAP berada pada predikat kurang sehat hal ini

dikarenakan dari 5 penilaian terdapat 2 penilaian yang yang mengurangi

penilaian diantaranya : Kurangnya pemantauan terhadap pemberian pinjaman

dan pinjaman yang diberikan kurang memiliki jaminan yang sebanding.

Untuk itu hal yang perlu diperhatikan diantaranya : hendaknya

memperhatikan kemampuan usaha dan tingkat permodalan serta agunan yang

cukup dalam pemberian pinjaman tanpa melihat kreditur tetap.

Pada Manajemen pengelolaan, berada pada predikat cukup sehat hal

ini dikarenakan dari 5 penilaian ada 2 penilaian penting yang harus ada pada

manajemen pengelolaan diantaranya 1). Program pendidikan dan latihan bagi

para pegawai hal ini perlu dilakukan untuk kemajuan USP dan persaingan

antar KSP 2). Disiplin kerja dan adanya praktik KKN antar pengelola dengan

anggota. Untuk itu hal yang perlu dilakukan dengan pemberian sangsi yang

tegas seperti pemberhentian jika terbukti KKN, Disiplin kerja harus

diupayakan dan dibiasakan oleh karyawan karena kebiasaan disiplin akan

menimbulkan displin juga bagi nasabah untuk melunasi kewajibanya dengan

sendirinya. Adapun sangsi yang perlu dilakukan dengan pemotongan gaji jika

terlambat dan teguran jika melakukan kegiatan selain kepentingan USP.

Pada manajemen rentabilitas terjadi kenaikan skor penilaian

dikarenakan skor pada tahun 2004 justru lebih baik dari tahun 2005 dengan

adanya ketentuan bahwa semua pengeluaran didukung dengan bukti-bukti

yang dapat dipertangung jawabkan dan yang kedua USP memiliki ketentuan

pembatasan dalam pemberian pinjaman kepada anggota yang baru.

Kemudian manajemen likuiditas USP selama ini selalu memantauan

terhadap pinjaman yang telah jatuh tempo, kredit yang diberikan dan jumlah

dana yang diterima USP berada pada predikat sehat. Hal ini perlu

dipertahankan agar jumlah pinjaman tidak melebihi jumlah dana yang

diterima, serta pinjaman yang sudah jatuh tempo dapat segera ditarik untuk

membiayai aktivitas usaha.

 

4. RENTABILITAS

Dari hasil penelitian diketahui bahwa rentabilitas KUD (USP) se-

Kabupaten Kendal tahun 2004 sampai dengan 2005 mengalami penurunan

dari kategori sehat menjadi cukup sehat. Hal ini disebabkan dengan adanya 3

rasio yaitu skor rasio SHU sebelum pajak terhadap laba usaha, skor rasio

SHU sebelum pajak tehadap total asset, skor rasio SHU sebelum pajak

terhadap biaya operasional.

Pada SHU sebelum pajak terhadap pendapatan operasional mengalami

perubahan negatif pada penilaian skor. Meskipun laba bukan tujuan utama

dari USP, tetapi laba menunjukan baik tidaknya kegiatan usaha yang

dilakukan USP. Besar kecilnya pendapatan mempengaruhi SHU. Pendapatan

SHU ini berasal dari kegiatan operasional dan non operasional. Pada USP se-

Kabupaten Kendal sebagian besar pendapatan berasal dari operasional yaitu

simpan pinjam. Semakin pendapatan kecil akan semakin menekan jumlah

SHU yang dihasilkan.

Laba USP mengalami penurunan dikarenakan jumlah biaya cadangan

resiko mengalami kenaikan sedangkan jumlah laba USP mengalami

penurunan. Untuk itu USP perlu menekan biaya operasional dan lebih teliti

dalam memberikan kredit kepada anggota. Disamping itu masih banyak

pinjaman bermasalah yang belum tertagih untuk itu perlu adanya penagihan

kembali.

Pada rasio SHU sebelum pajak terhadap total asset mengalami

perubahan negatif pada penilaian skor. Total asset dalam menghasilkan laba

dinilai kurang maksimal. Hal ini dikarenakan USP menunjukan SHU lebih

kecil dari harapan. USP memiliki jumlah asset yang besar tetapi dalam

pengelolaan mengalami kesulitan dikarenakan laba yang ditawarkan USP

cukup besar yakni berkisar dari 2,5% sampai 3% perbulan. Hal ini

menyebabkan kredit yang diserap anggota menurun, kurang lancarnya

perputaran total asset mengakibatkan rendahnya SHU yang diterima.

Laba merupakan hal pokok pada setiap kegiatan usaha. Namun

demikian USP lebih ditekankan pada. Untuk mengelola total asset agar

menghasilkan laba maksimal salah satunya dengan menurunkan tingkat

bunga pinjaman dari 2% sampai 2,75%, dengan total asset sebesar RP

3.387.162.060,- serta beban operasional sebesar Rp 304.446.633,- pertahun

dan apabila dengan penurunan bunga 2% perbulan akan dapat menghasilkan

laba sebelum pajak sebesar Rp 508.472.261,- selama setahun. Dengan adanya

penurunan tersebut akan dapat menyerap total asset secara maksimal serta

diharapkan modal yang diperoleh USP dapat bertambah.

Pada rasio beban usaha terhadap pendapatan usaha menunjukan

bahwa pada tahun 2005 mengalami perubahan negatif. Jumlah beban yang

terlalu besar dan laba yang menurun mengakibatkan kecilnya SHU. Beban

operasional yang dikeluarkan USP secara rata-rata masih tetap akan tetapi

jumlah pendapatan semakin berkurang. Adapun beban operasional pada USP

seperti beban bunga pinjaman dari bank dan dari nasabah dalam bentuk bagi

hasil disamping itu beban gaji dan penyusutan.

Besarnya keuntungan yang diperoleh koperasi akan menambah

besarnya kegiatan operasi simpan pinjam dan nantinya akan berguna bagi

anggotanya, dengan demikian akan mengurangi praktik lintah darat.

 

5. LIKUIDITAS

Berdasarkan hasil penelitian bahwa tingkat kesehatan komponen

likuiditas pada KUD (USP) berada pada kategori sehat. Kondisi ini perlu

dipertahankan untuk menjaga kepercayaan kepada masyarakat serta anggota

apabila mereka ingin mengambil kembali simpanannya sewaktu-waktu.

Selain lima komponen di atas, juga dilakukan penyesuaian terhadap hal –

hal lain yang dapat mempengaruhi tingkat kesehatan (lihat tabel). Dari

penyesuaian yang dilakukan tersebut tidak ada yang mempengaruhi tingkat

kesehatan hasil kuantifikasi, sehingga tidak merubah skor dan predikat tingkat

kesehatan yang telah dicapai oleh USP.

 

 

Simpulan

Dari hasil penelitian mengenai tingkat kesehatan USP yang ada pada kabupaten

Kendal tahun 2004-2005 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Komponen permodalan rata-rata tingkat kesehatan berada dalam kategori sehat.

Untuk rasio modal sendiri terhadap total asset dan rasio modal sendiri terhadap

pinjaman yang beresiko dalam keadaan sehat, akan tetapi mengalami penurunan

skor yang disebabkan adanya kenaikan pinjaman diberikan beresiko.

2. Komponen Kualitas Aktiva Produktif rata-rata tingkat kesehatan berada dalam

kategori sehat. Untuk rasio resiko pinjaman bermasalah terhadap pinjaman

diberikan dalam kategori sehat, akan tetapi mengalami penurunan skor yang

disebabkan bertambahnya pinjaman yang kurang sesuai dengan agunan. Rasio

pinjaman diberikan anggota terhadap total pinjaman yang diberikan dalam

kategori sehat. Sedang rasio cadangan resiko terhadap pinjaman bermasalah

diperoleh rata-rata tingkat kesehatan berada dalam kategori cukup sehat dengan

penurunan yang disebabkan dana yang cadangkan USP terlalu kecil.

3. Secara keseluruhan komponen manajemen berada pada predikat cukup sehat.

a. Manajemen dalam kategori sehat pada permodalan dan rentabilitas.

b. Manjemen pengelolaan dalam kategori cukup sehat.

4. Komponen Rentabilitas rata-rata tingkat kesehatan berada dalam kategori cukup

sehat. Untuk rasio SHU sebelum pajak terhadap pendapatan operasional rasio

beban operasional terhadap pendapatan operasional dan rasio beban usaha

terhadap pendapatan usaha masing-masing berada dalam kategori sehat.

Sedangkan rasio SHU sebelum pajak terhadap total asset diperoleh rata-rata

tingkat kesehatan berada dalam kategori kurang sehat. Hal ini dikarenakan USP

dalam mengelola asset belum menghasilkan pendapatan yang maksimum.

5. Likuiditas diperoleh rata-rata tingkat kesehatan berada dalam kategori sehat.

6. Jika dihitung seluruh komponen yang ada, maka secara rata-rata tingkat

kesehatan USP (KUD) se kabupaten Kendal tahun 2004-2005 dinilai sehat.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas dari komponen rentabilitas dari 3 rasio hanya

pada rasio SHU sebelum pajak terhadap total asset dalam kategori kurang sehat

untuk itu saran yang dapat diberikan :

1. Untuk mengurangi pinjaman yang beresiko diantaranya USP dalam

memberikan pinjaman tetap memperhatikan agunan tanpa melihat besar

kecilnya pinjaman.

2. Untuk mengurangi jumlah pinjaman bermasalah USP dapat melakukan

penagihan untuk mengurangi jumlah pinjaman bermasalah, hal yang dapat

dilakukan agar kreditur memenuhi kewajibanya diantaranya mengingatkan

kreditur pada waktu melakukan pembayaran listrik di KUD dan pada saat

kreditur akan melaksanakan panen.

3. Untuk meningkatkan rentabilitas dengan menurunkan bunga pinjaman dari

2,5%- 3% menjadi 2%-2,75% perbulan. Dengan jumlah total asset sebesar RP

3.387.162.060,- serta beban operasional sebesar Rp 304.446.633,- pertahun

dan dengan penurunan bunga 2% perbulan akan dapat menghasilkan laba

sebelum pajak sebesar Rp 508.472.261,- selama setahun. Dengan adanya

penurunan tersebut akan dapat menyerap total asset secara maksimal serta

diharapkan modal yang diperoleh USP dapat bertambah.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Derektorat Pengendalian Simpan Pinjam. 1999. Petunjuk Teknis Penilaian

Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam dan Unit Simpan Pinjam.

Munawir, Slamet. 1983. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.

Keputusan Menteri Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah RI Nomer

194/Kep/M/IX/1998.Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kesehatan

Koperasi Simpan Pinjam dan Unit Simpan Pinjam.

Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia.

Nomor: 104.1/Kep/M.KUKM/X/2002.Tentang Petunjuk Pelaksanan,

Pembentukan, Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan Angaran

Dasar Koperasi.

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995. Tentang Pelaksanan Kegiatan

Simpan Pinjam Oleh Koperasi.

—————- Nomor 351/Kep/M/XII/1998. Petunjuk Pelaksanan Kegiatan

Simpan Pinjam Oleh Koperasi.

—————- Nomor 09/Kep/M/I/1999. Tentang Petunujuk Pelaksanan

Pengendalian Simpan Pinjam.

Reksoprayitno, Soediono. 1992. Prinsip-prinsip Manajemen Bank Umum

Penerapanya di Indonesia. Edisi Kesatu. Yogyakarta: BPFE.

Riyanto, Bambang. 1995. Dasar-dasar Pembelajaran Koperasi. Edisi Keempat.

Yogyakarta: BPFE.

Sapoetra, G. Karto, dkk. 2001. Koperasi Indonesia Yang Berdasarkan Pancasila

dan UUD 1945 (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

Sudarsono. 2002. Koperasi Dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

UU Nomor 25 tahun 1992 Tentang Perkoperasian.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: